BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Harga nikel naik di tengah penurunan output industri di Indonesia
Sejumlah pelaku pasar menilai penyesuaian produksi NPI dapat memberikan dampak pada keseimbangan pasokan nikel global, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen utama bahan baku tersebut.
Harga nikel naik di tengah penurunan output industri di Indonesia
Tsingshan Group meminta sejumlah produsen nickel pig iron (NPI) di Weda Bay untuk menurunkan output. / Arsip Reuters

Harga nikel menguat pada perdagangan Selasa seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan dari Indonesia, setelah muncul laporan terkait pengurangan produksi di kawasan industri Weda Bay.

Di pasar berjangka, nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,47 persen ke level 18.840 dolar per ton pada pukul 07.33 GMT. Sementara itu, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange bertambah 2,06 persen menjadi 144.990 yuan atau sekitar 21.313 dolar per ton pada penutupan sesi siang.

Sentimen pasar dipicu laporan Reuters yang menyebut Tsingshan Group perusahaan China meminta sejumlah produsen nickel pig iron (NPI) di Weda Bay untuk menurunkan output. Langkah ini dikaitkan dengan upaya pengalihan penggunaan listrik untuk mendukung produksi aluminium yang tengah diperluas.

Perusahaan tersebut mengoperasikan fasilitas NPI dan smelter aluminium di kawasan industri yang sama, dengan sistem energi berbasis pembangkit listrik captive. Kondisi ini membuat alokasi daya menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat produksi masing-masing komoditas.

Di sisi lain, pasokan nikel juga disebut menghadapi tekanan tambahan akibat pengetatan kuota tambang di Indonesia. Salah satu operator tambang di Weda Bay, Eramet, dilaporkan mempertimbangkan penghentian sementara produksi sambil menunggu kepastian izin produksi tambahan.

Sementara itu, pasar aluminium menunjukkan tren penguatan di tengah ekspektasi ketatnya pasokan global. Di pasar logam lainnya, pergerakan harga cenderung bervariasi. Aluminium di LME naik tipis, sementara kontrak di Shanghai juga menguat. Komoditas logam dasar lain seperti tembaga, seng, timbal, dan timah bergerak campuran di bursa global.

TerkaitTRT Indonesia - Krisis sulfur tekan industri nikel Indonesia di tengah perang Iran



SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Bank Indonesia: Utang luar negeri Indonesia capai $454,8 miliar pada Juli 2026
Indonesia dan India perkuat kerja sama telekomunikasi hingga teknologi 6G
Grab akuisisi saham mayoritas Atome Financial senilai Rp26,36 triliun
Indonesia bangun pusat bioetanol di Lampung, target produksi komersial 60 ribu kiloliter
Indonesia dan Bulgaria perkuat kerja sama perdagangan dan investasi
Indonesia jajaki PTA dengan Mercosur demi rintis jalan menuju CEPA
Pasar stabil meski pergantian mendadak Menkeu, Suahasil tegaskan jaga kredibilitas APBN
AS resmi tetapkan bea masuk tinggi untuk impor panel surya dari Indonesia
Indonesia dan China percepat kerja sama energi baru, ekspansi dari PLTS hingga manufaktur
Indonesia dan AS dorong kerja sama ekonomi kreatif jelang WCCE 2026
Kadin buka peluang investasi Swedia di Indonesia, soroti IEU-CEPA dan OECD
Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak, ICP Indonesia jadi $89,43 per barel
PT Timah perluas ekspor ke Filipina dan Inggris, bidik Timur Tengah pada 2027
Kemendag dorong UMKM tingkatkan ekspor ke pasar global memanfaatkan teknologi AI
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Pemerintah ambil alih saham pengelola kereta Whoosh, utang direstrukturisasi hingga 80 tahun
Indonesia dan Australia mulai evaluasi total perjanjian kerja sama ekonomi IA-CEPA
Pemerintah perluas inklusi keuangan melalui penyediaan rekening bagi masyarakat
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Cadangan devisa naik $146,5 miliar pada Agustus 2026, BI: Ketahanan eksternal tetap solid