BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Krisis sulfur tekan industri nikel Indonesia di tengah perang Iran
Lonjakan harga sulfur akibat penutupan Selat Hormuz mulai menekan industri nikel Indonesia dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan global.
Krisis sulfur tekan industri nikel Indonesia di tengah perang Iran
FOTO ARSIP: Para pekerja memantau proses peleburan nikel di pabrik peleburan nikel PT Vale Tbk di Sorowako. / Reuters

Analis pasar logam Reuters, Andy Home, menilai lonjakan harga sulfur akibat berlanjutnya penutupan Selat Hormuz mulai memberikan tekanan besar terhadap industri nikel Indonesia, produsen nikel terbesar dunia.

Indonesia sangat bergantung pada pasokan sulfur dari kawasan Teluk untuk mendukung operasional pengolahan nikel, terutama fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) yang memasok bahan baku baterai kendaraan listrik.

Sekitar 75 persen impor sulfur Indonesia berasal dari kawasan Teluk, sementara wilayah tersebut menyumbang hampir seperempat pasokan sulfur global.

Sulfur digunakan untuk memproduksi asam sulfat yang menjadi komponen utama dalam proses pengolahan nikel HPAL. Fasilitas ini menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara penting untuk industri baterai.

Gangguan pasokan akibat perang Iran disebut mulai memukul operasional sejumlah smelter di Indonesia.

Produksi mulai tertekan

Sejumlah operator HPAL mulai memangkas produksi akibat kenaikan biaya sulfur. Perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt bahkan dilaporkan menghentikan setengah kapasitas produksinya.

Ekspansi kapasitas baru yang sebelumnya dijadwalkan beroperasi tahun ini juga diperkirakan tertunda karena produsen kesulitan menjaga tingkat produksi.

Bank investasi Macquarie Group memperkirakan produksi HPAL Indonesia tahun lalu mencapai 450 ribu ton atau lebih dari 10 persen produksi global. Sekitar 100 ribu ton kapasitas tambahan sebelumnya diproyeksikan mulai beroperasi pada 2026.

Tekanan terhadap industri juga datang dari kebijakan pemerintah Indonesia yang memperketat kuota produksi tambang serta mengubah formula harga minimum bijih nikel.

Kuota produksi tahun ini dipatok sekitar 260 juta hingga 270 juta ton, lebih rendah dibanding kebutuhan smelter domestik.

Formula baru harga bijih nikel disebut dapat meningkatkan biaya produksi HPAL lebih dari 3.000 dolar AS per ton. Jika digabungkan dengan kenaikan harga sulfur, titik impas produksi kini diperkirakan mencapai 18 ribu dolar AS per ton.

Harga nikel mulai naik

Kondisi tersebut mulai mengubah keseimbangan pasar nikel global setelah selama dua tahun terakhir Indonesia membanjiri pasar dengan pasokan besar yang menekan harga dunia.

Harga nikel tiga bulan di London Metal Exchange pekan lalu sempat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun di kisaran 20 ribu dolar AS per ton.

Harga saat ini bertahan di sekitar 19 ribu dolar AS per ton atau naik sekitar 14,5 persen sejak awal 2026.

Kelompok studi industri International Nickel Study Group sebelumnya memperkirakan pasar nikel global akan beralih dari surplus besar dalam tiga tahun terakhir menjadi defisit pada 2026.

Produksi global diperkirakan turun 4,3 persen seiring melambatnya pertumbuhan produksi Indonesia.

Analis menilai pemerintah Indonesia masih dapat menyesuaikan kembali kuota tambang di pertengahan tahun. Namun, Jakarta dinilai tidak memiliki kendali atas krisis pasokan sulfur global yang kini menjadi ancaman baru bagi dominasi nikel Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - Harga nikel dunia naik tajam, pembatasan kuota Indonesia jadi sorotan pasar
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Bank Indonesia: Utang luar negeri Indonesia capai $454,8 miliar pada Juli 2026
Indonesia dan India perkuat kerja sama telekomunikasi hingga teknologi 6G
Grab akuisisi saham mayoritas Atome Financial senilai Rp26,36 triliun
Indonesia bangun pusat bioetanol di Lampung, target produksi komersial 60 ribu kiloliter
Indonesia dan Bulgaria perkuat kerja sama perdagangan dan investasi
Indonesia jajaki PTA dengan Mercosur demi rintis jalan menuju CEPA
Pasar stabil meski pergantian mendadak Menkeu, Suahasil tegaskan jaga kredibilitas APBN
AS resmi tetapkan bea masuk tinggi untuk impor panel surya dari Indonesia
Indonesia dan China percepat kerja sama energi baru, ekspansi dari PLTS hingga manufaktur
Indonesia dan AS dorong kerja sama ekonomi kreatif jelang WCCE 2026
Kadin buka peluang investasi Swedia di Indonesia, soroti IEU-CEPA dan OECD
Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak, ICP Indonesia jadi $89,43 per barel
PT Timah perluas ekspor ke Filipina dan Inggris, bidik Timur Tengah pada 2027
Kemendag dorong UMKM tingkatkan ekspor ke pasar global memanfaatkan teknologi AI
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Pemerintah ambil alih saham pengelola kereta Whoosh, utang direstrukturisasi hingga 80 tahun
Indonesia dan Australia mulai evaluasi total perjanjian kerja sama ekonomi IA-CEPA
Pemerintah perluas inklusi keuangan melalui penyediaan rekening bagi masyarakat
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Cadangan devisa naik $146,5 miliar pada Agustus 2026, BI: Ketahanan eksternal tetap solid