PMI pertimbangkan kirim bantuan medis ke Iran di tengah krisis kesehatan
PMI berencana memilih rute pengiriman melalui Pakistan atau Türkiye agar proses distribusi dapat berlangsung lebih cepat. PMI menilai pengadaan obat dari negara yang lebih dekat dengan Iran bisa menjadi pilihan yang lebih efisien.
Palang Merah Indonesia (PMI) membuka opsi penyaluran bantuan kesehatan ke Iran setelah adanya permintaan dari pihak Teheran, seiring meningkatnya tekanan terhadap layanan medis di negara tersebut. Permintaan itu disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, saat bertemu Ketua Umum PMI Jusuf Kalla di Jakarta pada Rabu.
Menurut pernyataan resmi PMI, kebutuhan dukungan medis di Iran saat ini cukup mendesak, terutama karena keterbatasan fasilitas kesehatan dan pasokan obat. Jusuf Kalla menegaskan bahwa kondisi tersebut mendorong PMI untuk mempertimbangkan langkah bantuan melalui mekanisme kemanusiaan internasional.
“Situasi yang ada di Iran saat ini memerlukan bantuan medis, khususnya karena keterbatasan fasilitas dan obat,” ujar Kalla.
Ia menjelaskan, distribusi bantuan tidak akan dilakukan secara langsung oleh pemerintah, melainkan melalui jaringan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di kawasan sekitar Iran. Skema ini dinilai lebih efektif untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Dalam perencanaannya, PMI juga menimbang rute pengiriman melalui Pakistan atau Türkiye agar proses distribusi dapat berlangsung lebih cepat. PMI menilai pengadaan obat dari negara yang lebih dekat dengan Iran bisa menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan mengirim langsung dari Indonesia.
“Lebih baik membeli obat di negara terdekat. Pengalaman kami, harga obat di Pakistan bisa setengah lebih murah dibanding di Indonesia,” jelas Kalla.
Saat ini, PMI masih melakukan penghitungan terkait kebutuhan riil di lapangan, termasuk jenis obat dan peralatan medis yang diperlukan. Koordinasi juga tengah dilakukan bersama Kementerian Kesehatan untuk memastikan kesiapan teknis penyaluran bantuan.