DUNIA
2 menit membaca
Indonesia dan Swiss teken kemitraan strategis mineral dan logam, dorong hilirisasi berkelanjutan
Kerangka kerja sama ini mencakup promosi investasi, penguatan rantai pasok berkelanjutan, pertukaran teknologi dan pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, serta penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Indonesia dan Swiss teken kemitraan strategis mineral dan logam, dorong hilirisasi berkelanjutan
Indonesia–Swiss teken kemitraan strategis mineral dan logam. /Foto: BKPM

Indonesia dan Swiss mempererat kemitraan ekonomi mereka di sektor strategis mineral dan logam melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup kerja sama dari hulu hingga hilir, termasuk pengolahan logam dan ekstraksi mineral langka. Pemerintah Swiss menyatakan kesepakatan ini akan mulai berlaku pada 16 Juli 2026.

Penandatanganan tersebut menandai penyelesaian proses yang sebelumnya dilakukan secara sirkuler oleh Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin di Basel pada 23 Juni 2026, bertepatan dengan Swissmem Industry Day. Di Jakarta, kesepakatan ini dikonfirmasi sebagai bagian dari upaya memperdalam kolaborasi ekonomi kedua negara.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai kerja sama ini menjadi langkah penting dalam mendorong transformasi industri berbasis nilai tambah di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi berfokus pada ekspor bahan mentah semata.

“Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi,” ujar Rosan.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia, Switzerland luncurkan program kerjasama ekonomi SECO 2025–2028

Menurutnya, Swiss menjadi mitra strategis berkat keunggulan dalam teknologi, inovasi, pembiayaan, hingga akses pasar global, yang dinilai penting untuk mempercepat pengembangan industri berbasis mineral, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Olivier Zehnder menambahkan bahwa kesepakatan ini hadir pada momentum penting peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2026.

Ia menyebut MoU tersebut akan menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan kekuatan Swiss dalam teknologi dan modal di sepanjang rantai nilai industri. “Nota kesepahaman ini memanfaatkan keunggulan yang saling melengkapi antara kedua negara,” katanya.

Kerangka kerja sama ini mencakup promosi investasi, penguatan rantai pasok berkelanjutan, pertukaran teknologi dan pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, serta penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Selain itu, kedua negara juga akan mendorong pengembangan teknologi bersih, peningkatan tata kelola industri hilir, serta berbagai kegiatan seperti misi bisnis dan pelatihan.

Sepanjang 2021 hingga kuartal pertama 2026, realisasi investasi Swiss di Indonesia tercatat mencapai sekitar 1,33 miliar dolar AS, dengan kontribusi utama dari sektor industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta kimia dan farmasi.

Penguatan hubungan ekonomi ini juga ditopang oleh implementasi perjanjian dagang Indonesia–EFTA (IE-CEPA), yang memberikan kepastian dan kemudahan bagi pelaku usaha dari kedua negara dalam memperluas kerjasama bisnis.

TerkaitTRT Indonesia - Pengadilan Swiss setujui gugatan iklim penduduk Pulau Pari terhadap perusahaan semen Holcim
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi