Investasi hilirisasi Indonesia mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari–September 2026, meningkat 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai tersebut menyumbang 31,2 persen dari total investasi nasional selama sembilan bulan pertama tahun ini.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan pemerintah akan terus mendorong investasi yang berkualitas untuk memperkuat industri dalam negeri dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (19/10), ia menyebut kontribusi hilirisasi terhadap total investasi meningkat dari 26 persen pada 2024 menjadi 34 persen pada kuartal III-2026. Sementara itu, kontribusinya selama Januari–September tercatat sekitar 31 persen.
Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi Rp335,1 triliun. Dari jumlah tersebut, nikel menarik investasi Rp118,9 triliun, diikuti bauksit sebesar Rp115,7 triliun, besi dan baja Rp40,8 triliun, tembaga Rp39,5 triliun, serta pasir silika Rp7 triliun.
Di luar sektor mineral, investasi hilirisasi pada perkebunan dan kehutanan mencapai Rp83,6 triliun. Sektor minyak dan gas bumi mencatat Rp54 triliun, sedangkan industri perikanan dan kelautan memperoleh investasi Rp7,3 triliun. Pemerintah mendorong pengolahan komoditas di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Sebaran investasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa, dengan nilai mencapai Rp373,1 triliun atau 78 persen dari total investasi hilirisasi selama Januari–September 2026. Sulawesi Tengah menjadi provinsi dengan investasi terbesar, yakni Rp100,4 triliun, disusul Maluku Utara sebesar Rp84,1 triliun dan Jawa Barat Rp36,9 triliun.
Pada kuartal III-2026, investasi hilirisasi mencapai Rp179,9 triliun, meningkat 19,4 persen secara tahunan. Sementara itu, investasi nasional mencapai Rp1.539,2 triliun sepanjang Januari–September, setara dengan 75,4 persen dari target tahunan Rp2.041,3 triliun.
Sementara itu, selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejak Oktober 2024 hingga September 2026, total realisasi investasi tercatat Rp3.923,2 triliun. Investasi tersebut menyerap 5.485.944 tenaga kerja, sejalan dengan upaya pemerintah memperluas kegiatan ekonomi dan meningkatkan manfaat investasi bagi masyarakat.




















