Pemerintah Indonesia menyiapkan 26 proyek hilirisasi dengan total investasi Rp225 triliun melalui Danantara dalam dua fase. Seluruh proyek tersebut diproyeksikan menciptakan 37.833 lapangan kerja sebagai bagian dari upaya memperkuat industri nasional dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menyatakan hilirisasi menjadi salah satu fokus transformasi ekonomi selama dua tahun pemerintahan, dengan mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
“Pemerintah mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Agar menghasilkan nilai tambah lebih besar, memperkuat industri nasional, dan membuka lapangan kerja,” demikian keterangan Bakom RI dalam siaran pers pada Sabtu (17/10), bertajuk Dua Tahun Gerak Nyata: Transformasi yang Terukur, Manfaat yang Terasa.
Selain pengembangan industri hilir, pemerintah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sejak 1 Juni 2026. Kebijakan ini mencakup tiga komoditas strategis, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy atau paduan besi.
Menurut Bakom RI, nilai ekspor ketiga komoditas tersebut mencapai 66,13 miliar dolar AS pada 2025, setara 23,4 persen dari total ekspor nasional. Penataan mekanisme ekspor ini juga ditujukan untuk mencegah praktik pelaporan nilai ekspor di bawah nilai sebenarnya.
Melalui percepatan hilirisasi dan perbaikan tata kelola perdagangan, pemerintah berupaya mengoptimalkan manfaat ekonomi dari sumber daya alam, memperkuat kapasitas industri domestik, serta memperluas kesempatan kerja.

























