ASIA
2 menit membaca
Cadangan nikel dan kobalt Indonesia tembus 800 miliar, hilirisasi dorong lonjakan nilai
DEN menyebut cadangan nikel dan kobalt Indonesia bernilai sekitar 800 miliar dolar, dengan hilirisasi yang telah meningkatkan ekspor 12 kali lipat sejak 2014.
Cadangan nikel dan kobalt Indonesia tembus 800 miliar, hilirisasi dorong lonjakan nilai
Ekspor produk nikel Indonesia tercatat melonjak sekitar 12 kali lipat sejak 2014.

Indonesia memiliki basis kekayaan mineral strategis nikel dan kobalt yang nilainya ditaksir mencapai sekitar 800 miliar dolar AS, dua mineral yang menjadi penopang utama rantai pasok energi bersih global, menurut Dewan Ekonomi Nasional (DEN).

Dalam diskusi bertema “Reformasi Pengolahan Nikel Demi Mendorong Pertumbuhan Industri Hijau” di Jakarta, Kamis (27/8), Tim Ahli Pertambangan dan Mineral DEN, Nataneil Adhynegara Horansil, menjelaskan bahwa estimasi tersebut dihitung berdasarkan cadangan nikel Indonesia sebesar 52 juta ton dan kobalt sekitar 1,2 juta ton, menggunakan acuan harga pasar London Metal Exchange (LME).

“Kalau kita estimasi dengan nilai pasar LME saat ini, valuasinya untuk nikel sekitar 700 miliar dolar AS, sementara kobalt berada di kisaran 50-an miliar dolar AS,” ujar Nataneil. “Jadi totalnya kurang lebih 800 miliar dolar AS.” tambanya sebagaimana dikutip oleh Antara.

Namun ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan mencerminkan seluruh potensi sumber daya mineral Indonesia, melainkan hanya cadangan yang sudah tergolong economically mineable atau dapat dimonetisasi secara komersial. 

Menurutnya, Sebagian besar sumber daya lain masih berada pada tahap potensi yang belum ekonomis untuk ditambang.

TerkaitTRT Indonesia - Ekspor Indonesia naik 4,13 persen, lonjakan nikel perkuat industri pengolahan

Hilirisasi dongrak ekspor

Nataneil menilai kebijakan hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah telah mengubah struktur industri mineral Indonesia secara signifikan. Dari sebelumnya hanya mengekspor bijih mentah, Indonesia kini telah naik kelas dengan memproduksi barang antara seperti nickel pig iron (NPI).

Transformasi ini, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi ambisi Indonesia untuk masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi, termasuk produksi material baterai hingga kendaraan listrik.

Dari sisi kapasitas industri, kapasitas smelter nikel nasional kini telah mencapai sekitar 1,8 juta ton, dengan konsentrasi utama berada di kawasan industri Sulawesi yang menjadi pusat pengolahan mineral strategis.

Dampak hilirisasi juga tercermin pada kinerja perdagangan. Ekspor produk nikel Indonesia tercatat melonjak sekitar 12 kali lipat sejak 2014, dari sekitar 3 miliar dolar AS per tahun menjadi 37 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Sementara itu, arus investasi asing di sektor logam dasar (base metal) juga menunjukkan tren kuat, dengan nilai foreign direct investment (FDI) mencapai lebih dari 71 miliar dolar AS sepanjang periode 2015 hingga 2025, mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci global dalam industri mineral kritis.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia perkuat koordinasi antar lembaga untuk ekspor mineral tanah jarang
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi