Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima laporan perkembangan kondisi perekonomian nasional yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,45 persen. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara anggota G20 dan kawasan ASEAN.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan laporan evaluasi ekonomi nasional tersebut secara langsung kepada Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
"Perekonomian kita terus tumbuh di atas 5 persen, tepatnya 5,45 persen, yang mana angka ini lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 3 persen. Kita adalah yang tertinggi di G20, Bapak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN," kata Airlangga.
Inflasi terjaga dan indikator makro tangguh
Selain pertumbuhan ekonomi, Airlangga melaporkan tingkat inflasi nasional tetap terkendali pada angka 3,28 persen, berada dalam rentang target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Kenaikan inflasi belakangan ini sebagian besar dipengaruhi oleh komoditas pertanian, terutama cabai merah dan cabai keriting.
Di sektor manufaktur, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Indonesia naik ke level 52,4 yang menunjukkan sektor ini berada di zona ekspansi. Neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS, didukung Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 118,1.
Airlangga turut menyoroti perbaikan indikator ketenagakerjaan dan pemerataan ekonomi. Tingkat pengangguran tercatat turun menjadi 4,65 persen—angka terendah sejak 1994. Sementara itu, ketimpangan pendapatan melandai dengan Gini Ratio yang membaik ke angka 0,368.
Resiliensi sektor fiskal dan keuangan
Dari sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terjaga di level 1,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih aman di bawah batas target pemerintah. Sementara di sektor moneter, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75 persen.
"Cadangan devisa kita tetap memadai untuk membiayai 6,5 bulan impor dengan total mencapai 146,3 miliar dolar AS," ujar Airlangga.
Kinerja sektor perbankan nasional juga menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year-on-year), didampingi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,94 persen. Rasio kecukupan modal perbankan tergolong kuat di level 24,10 persen dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang terjaga rendah di angka 2,11 persen.























