Indonesia siapkan efisiensi APBN Rp80 triliun akibat dampak perang AS-Israel terhadap Iran
Selain efisiensi anggaran, opsi kebijakan bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan sebagian pekerja sektor publik juga tengah dikaji.
Pemerintah Indonesia mempercepat langkah penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp80 triliun (US$5 miliar) guna meredam dampak lonjakan harga energi global akibat konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran yang kemudian meluas di seluruh Timur Tengah
Juru bicara kepresidenan Prasetyo Hadi pada senin (23/3) mengonfirmasi besaran target penghematan tersebut. Namun, ia tidak merinci sektor atau pos anggaran mana yang akan menjadi sumber pemangkasan tersebut.
Dalam wawancara yang dipublikasikan akhir pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintahannya tengah “bekerja sangat keras” meningkatkan efisiensi fiskal.
Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan memangkas anggaran kementerian dan lembaga serta membatasi pengajuan dana baru. Ia menilai praktik permintaan tambahan anggaran selama ini cukup besar dan perlu dikendalikan demi menjaga disiplin fiskal.
“Efisiensi anggaran menjadi opsi pertama jika tekanan harga energi global terus meningkat,” kata Purbaya, seraya menambahkan kebijakan ini tidak akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Tekanan terhadap anggaran negara meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia, yang memperbesar beban subsidi bahan bakar. Subsidi pemerintah Indonesia terhadap bahan bakar di Indonesia mencakup sekitar 30–40 persen harga bagi konsumen dan menyerap sekitar 15 persen belanja negara.
Untuk mengurangi tekanan, opsi kebijakan bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara dan sebagian pekerja sektor publik juga tengah dikaji. Kebijakan ini dinilai dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar di tengah harga energi yang tinggi.
Meski melakukan efisiensi, pemerintah memastikan subsidi bahan bakar tetap dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi tekanan tersebut. Sejumlah negara di Asia juga tengah mencari cara untuk mengelola dampak kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan.