ASIA
2 menit membaca
Ekspor Indonesia diproyeksi tetap tumbuh meski ketegangan Timur Tengah meningkat
Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan ekspor, meski tekanan eksternal dari konflik geopolitik dan pasar global tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.
Ekspor Indonesia diproyeksi tetap tumbuh meski ketegangan Timur Tengah meningkat
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah relatif kecil, hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor. / Arsip Reuters
7 jam yang lalu

Lonjakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik. Meski demikian, prospek ekspor Indonesia pada 2026 tetap menunjukkan ketahanan.

Lembaga riset Indonesia Eximbank Institute memperkirakan ekspor nasional masih mampu tumbuh hingga 5 persen tahun ini. Bahkan, pertumbuhan berpotensi meningkat ke 6 persen pada 2027, dengan catatan permintaan global kembali pulih dan ketegangan geopolitik mereda.

Kepala lembaga tersebut, Rini Satriani, menegaskan bahwa dampak konflik terhadap perdagangan Indonesia lebih banyak bersifat tidak langsung, terutama melalui tekanan harga energi global, fluktuasi nilai tukar, serta perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama.

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini dalam keterangannya, pada Kamis.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah relatif kecil, hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor. Sementara itu, impor dari kawasan tersebut berada di kisaran 3,9 persen dan didominasi oleh produk energi, khususnya minyak.

Impor minyak

Meski impor minyak Indonesia sebagian besar berasal dari Singapura dan Malaysia, sekitar 75 persen kedua negara tersebut mengandalkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Hal ini membuat gangguan di kawasan Teluk tetap berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang dirasakan Indonesia.

Jika konflik berlanjut, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak di kisaran $85 hingga $120 per barel, jauh di atas posisi awal tahun yang masih sekitar $60. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan biaya produksi global, terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.

Di sisi lain, beberapa komoditas unggulan Indonesia justru diuntungkan. Batu bara yang menyumbang sekitar 8–9 persen ekspor berpotensi mengalami penguatan harga. Tren serupa juga terlihat pada minyak kelapa sawit (CPO) seiring permintaan global yang tetap solid.

Dengan berbagai faktor tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan ekspor, meski tekanan eksternal dari konflik geopolitik dan pasar global tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.

TerkaitTRT Indonesia - Kesepakatan dagang baru AS-Indonesia tingkatkan akses energi dan mineral
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi