Seorang pejabat senior FBI mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat "berkomitmen untuk memimpin perjuangan" melawan pabrik penipuan bernilai miliaran dolar di Asia Tenggara yang menargetkan warga Amerika.
Scott Schelble, Wakil Asisten Direktur Divisi Operasi Internasional FBI, menyampaikan hal itu dalam konferensi pers setelah melakukan perjalanan ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam, di mana ia mengunjungi beberapa pusat penipuan.
"Tidak mungkin sepenuhnya memahami besarnya operasi ini sampai Anda melihatnya sendiri," katanya, merujuk pada pabrik penipuan berskala industri yang dipimpin oleh kelompok-kelompok asal China yang telah menyebar di seluruh kawasan.
"Para pelaku kriminal tidak boleh berpikir bahwa batas negara akan melindungi mereka jika mereka menargetkan warga Amerika," katanya. "Kami tahu di mana Anda berada dan kami akan datang untuk menangkap Anda."
Sindikat kejahatan terorganisir asal China menargetkan warga Amerika dengan penipuan "setiap hari" melalui "perusahaan kriminal yang canggih dan memiliki sumber daya besar yang mengeksploitasi perbatasan, teknologi, dan orang-orang rentan untuk menghasilkan keuntungan besar," kata Schelble.

Kelompok-kelompok ini "tidak terikat oleh hukum atau batas geografis" dan beroperasi dengan "tingkat impunitas karena mereka memanfaatkan celah dalam hukum negara-negara tersebut," tambahnya.
FBI telah mengerahkan agen untuk bekerja dengan polisi Thailand dalam satu gugus tugas anti-penipuan bersama yang telah mengganggu jaringan, mengidentifikasi korban, dan menargetkan infrastruktur keuangan pendukung, kata Schelble.
FBI telah bermitra dengan polisi Kamboja di masa lalu dan berharap memanfaatkan keberhasilan sebelumnya untuk bekerja sama dalam menangani kompleks penipuan, katanya, seraya menambahkan bahwa ia juga mengadakan diskusi yang membuahkan hasil dengan Vietnam.
Pusat penipuan adalah masalah regional dan memerlukan kerja sama regional, kata Schelble. "Kuncinya adalah menjadikan setiap wilayah tempat yang tidak ramah bagi operasi kompleks ini."
Pada hari Jumat (19/2), sebuah laporan oleh kantor hak asasi manusia PBB merinci tingkat penyalahgunaan, penyiksaan, pelecehan seksual, dan kerja paksa yang "mencengangkan" dialami oleh orang-orang yang diperdagangkan ke operasi penipuan.


















