Kapal minyak Rusia tiba di Filipina saat krisis energi terus memburuk
Pemerintah Filipina juga berencana meningkatkan produksi listrik batu bara untuk menekan biaya energi. Baru-baru ini, Filipina memastikan akan mengimpor banyak batu bara dari Indonesia.
Filipina mulai menjajaki sumber energi alternatif di tengah tekanan pasokan global, ditandai dengan tibanya kapal tanker bermuatan besar minyak mentah asal Rusia di perairannya. Langkah ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah menetapkan status darurat energi akibat dampak konflik AS-Israel dengan Iran.
Kapal berbendera Sierra Leone, Sara Sky, membawa lebih dari 700.000 barel minyak mentah berkualitas tinggi dari jalur pipa ESPO Rusia, menurut sumber yang mengetahui pengiriman tersebut menyebut kepada AFP.
Kapal itu dilaporkan merapat pada Senin di pelabuhan Limay, dekat Manila, lokasi kilang milik Petron Corp, satu-satunya fasilitas pengolahan minyak di Filipina. Pengiriman ini diyakini sebagai yang pertama dari Rusia dalam lima tahun terakhir.
Ketergantungan tinggi Filipina pada impor energi membuat negara kepulauan itu terpukul oleh lonjakan harga global, terutama setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu distribusi minyak dan gas, termasuk melalui Selat Hormuz.
Seorang jurnalis AFP juga mengonfirmasi keberadaan kapal tersebut di area pelabuhan pada Kamis (26/3).
CEO Petron Ramon Ang sebelumnya mengakui perusahaannya tengah “bernegosiasi” untuk membeli minyak Rusia, ia menolak mengonfirmasi kedatangan kargo tersebut.
Di sisi lain, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menegaskan pemerintah kini memperluas pencarian pasokan energi karena cadangan domestik diperkirakan hanya cukup untuk 45 hari.
Kembali mengandalkan batu bara
“Kami tidak hanya bergantung pada pemasok tradisional... kami juga menjajaki sumber lain yang tidak terdampak perang di Timur Tengah,” ujarnya. Ia menambahkan, “Tidak ada opsi yang ditutup. Kami mempertimbangkan semua kemungkinan.”
Kesempatan bagi negara seperti Filipina untuk mengakses minyak Rusia juga terbuka setelah Amerika Serikat melonggarkan sebagian pembatasan penjualan, khususnya untuk kargo yang sudah berada di laut hingga 11 April.
Sebagai bagian dari respons darurat, Departemen Energi Filipina mengaktifkan dana senilai 20 miliar peso (sekitar 332 juta dolar AS) guna mengamankan pasokan. Menteri Energi Sharon Garin menyebut langkah ini sebagai upaya “proaktif” menghadapi ketidakpastian.
Pemerintah Filipina berencana meningkatkan produksi listrik dari pembangkit batu bara untuk menekan biaya energi, di tengah melonjaknya harga LNG. Menteri tersebut juga memastikan bahwa Indonesia, sebagai pemasok utama batu bara, tidak memberlakukan pembatasan ekspor jika Filipina perlu meningkatkan impor dalam waktu dekat.
Garin mengakui langkah ini bersifat sementara, meski berarti peningkatan ketergantungan pada bahan bakar fosil.