Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan PT PLN (Persero) menghentikan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan total kapasitas sekitar 13 gigawatt (GW) dan mengalihkannya ke sumber energi nonfosil.
Instruksi tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan program Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8). Menurutnya, pengurangan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor menjadi bagian penting untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia.
“Kita harus meninggalkan pembangkit listrik dari diesel, kurang lebih 13 gigawatt harus segera kita tinggalkan. Sumber-sumber energi lainnya ternyata sungguh sangat banyak,” ujar Prabowo.
Presiden mengatakan Indonesia menghabiskan sekitar $28 miliar hingga $30 miliar setiap tahun untuk mendatangkan BBM dari luar negeri. Ketergantungan tersebut, menurutnya, membuat perekonomian nasional rentan terhadap gejolak harga minyak akibat konflik regional maupun perselisihan perdagangan global.
“Kita terlalu besar untuk menggantungkan diri kepada pihak luar,” kata Prabowo. Ia menambahkan bahwa konflik di berbagai wilayah dunia dapat berdampak pada masyarakat Indonesia meski Indonesia tidak terlibat langsung.
Prabowo menyebut Indonesia memiliki beragam sumber energi alternatif yang lebih bersih, termasuk potensi tenaga surya dan cadangan hidrogen alam. Ia mengatakan penelitian yang dilakukan ilmuwan dan peneliti Indonesia turut membuka peluang pemanfaatan sumber energi tersebut.
Untuk mempercepat pemanfaatan energi surya, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas PLTS hingga 100 GW dalam empat tahun mendatang. Target untuk tahun ini ditetapkan sebesar 30 GW.
Prabowo menilai optimalisasi sumber daya alam dan energi domestik akan memperkuat posisi ekonomi Indonesia serta mengurangi kerentanan terhadap tekanan dari luar negeri.

























