Thailand wajibkan pegawai negeri WFH, terapkan langkah penghematan energi

Bangkok berupaya menekan konsumsi energi yang sebagian besar bergantung pada gas alam, termasuk 35 persen impor, sebagian besar dari negara tetangga Myanmar.

By
Langkah Thailand menandai upaya negara Asia menghadapi dampak krisis energi global yang akibat konflik bersenjata di Timur Tengah. / Arsip Reuters

Pemerintah Thailand memberlakukan langkah penghematan energi dengan mewajibkan pegawai negeri bekerja dari rumah (WFH) serta menggunakan tangga daripada lift, menyusul gangguan pasokan minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul pada Selasa, mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan, menurut laporan Bangkok Post. Langkah tersebut mencakup penangguhan perjalanan luar negeri, pengaturan suhu pendingin ruangan di 26–27°C, dan mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi.

Pemerintah juga meminta pegawai mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan, mengurangi penggunaan mesin fotokopi, serta mendorong pertemuan daring untuk meminimalkan konsumsi energi.

Bangladesh dan Pakistan menerapkan langkah serupa, termasuk penutupan sekolah dan pengaturan kerja jarak jauh, sebagai upaya meredam dampak kenaikan biaya energi.

Ketegangan regional meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, termasuk mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan ratusan siswi. Iran membalas serangan tersebut dengan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung fasilitas militer AS.

Sejak 1 Maret, Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menangani sekitar 20 juta barel minyak per hari dan 20 persen perdagangan gas alam cair dunia. 

Thailand, sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, saat ini memiliki cadangan energi untuk sekitar 95 hari dan tengah mencari sumber tambahan gas alam cair dari AS, Australia, dan Afrika Selatan. 

Dengan langkah ini, Bangkok berupaya menekan konsumsi energi yang sebagian besar bergantung pada gas alam, termasuk 35 persen impor, sebagian besar dari negara tetangga Myanmar. Langkah Thailand menandai upaya negara-negara Asia menghadapi dampak krisis energi global yang semakin terasa akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.