Minyak menembus level $100 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga setengah tahun, memicu reaksi langsung di pasar, pemerintahan, dan bank sentral saat perang AS-Israel terhadap Iran memasuki hari ke-10, mengancam terjadinya guncangan pasokan global yang besar.
Berikut ringkasan singkat tentang perkembangan terbaru.
Impact on markets
Brent crude, tolok ukur minyak internasional, melonjak ke kisaran sekitar $107–$115 per barel, sementara West Texas Intermediate, minyak mentah ringan dan manis yang diproduksi di Amerika Serikat, naik di atas $105, menandai pertama kalinya harga minyak melewati ambang $100 sejak 2022.
Harga minyak melonjak karena perang, yang kini memasuki minggu kedua, telah melibatkan negara dan wilayah yang krusial bagi produksi serta pergerakan minyak dan gas dari Teluk.
Lonjakan tersebut mendorong pasar global memasuki mode 'risk-off' pada perdagangan awal hari Senin, dengan saham-saham Asia seperti Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan turun tajam dan kontrak berjangka saham AS juga menurun.
Analis memperingatkan kenaikan itu dapat menyalakan kembali inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Gunjangan pasokan
Sekitar 15 juta barel minyak mentah — sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia — biasanya dikapalkan setiap hari melalui Selat Hormuz, menurut firma riset independen Rystad Energy.
Ancaman serangan rudal dan drone dari Iran nyaris menghentikan kapal tanker yang melintasi selat tersebut, yang berbatasan di utara dengan Iran, mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Iraq, Kuwait, dan UEA telah memangkas produksi minyak mereka karena tangki penyimpanan penuh akibat berkurangnya kemampuan mengekspor minyak mentah. Perang ini juga memicu serangan terhadap fasilitas minyak dan gas, memperparah kekhawatiran pasokan.
Force majeure
Operator minyak negara Bahrain, Bapco Energies, telah menyatakan force majeure (keadaan kahar) setelah serangan terhadap infrastruktur energi. Serangan terbaru menargetkan salah satu unit kilang Bapco Refining, afiliasi grup tersebut.
Force majeure adalah langkah hukum yang membebaskan sebuah perusahaan dari kewajiban kontrak karena adanya keadaan luar biasa.
Peninjauan ulang bank-bank sentral
Krisis yang meningkat di Timur Tengah telah mengubah secara dramatis prospek bagi bank sentral global, dengan guncangan pasokan besar yang menimbulkan dilema sulit antara mendukung pertumbuhan dan menahan inflasi.
Bagi bank sentral negara-negara Asia berkembang, pemangkasan suku bunga menjadi taruhan berisiko bukan hanya karena tekanan harga tambahan dari biaya bahan bakar yang lebih tinggi, tetapi juga risiko memicu keluarnya modal akibat memburuknya terms of trade dengan AS.
Reserve Bank of India, misalnya, diperkirakan akan lebih fokus mendukung pertumbuhan dengan menjaga suku bunga rendah, demikian Reuters melaporkan, mengutip sumber.
Thailand dan Filipina mungkin terpaksa membalikkan sikap kebijakan moneter yang dovish, meskipun kenaikan biaya bahan bakar merugikan ekonomi mereka, kata Toru Nishihama, kepala ekonom pasar negara berkembang di Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo.
"Banyak bank sentral akan menghadapi keputusan sulit karena mendapat tekanan dari pasar dan pemerintahan," kata Nishihama. "Tanpa tanda-tanda akhir konflik yang jelas, risiko stagflasi semakin meningkat dari hari ke hari."
Pasar saham anjlok dan dolar AS sebagai aset aman menguat di Asia pada hari Senin seiring lonjakan harga minyak, memicu kekhawatiran perang berkepanjangan di Timur Tengah terhadap pasokan energi global dan inflasi yang lebih tinggi yang dapat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.
Pertukaran ini terutama mengena pada ekonomi padat manufaktur seperti Korea Selatan dan Jepang, yang bergantung pada perdagangan global, pasar yang stabil, dan biaya bahan baku murah—semua itu terganggu oleh melebarannya krisis di Timur Tengah.
Bank sentral Korea Selatan, yang menahan suku bunga pada Februari, bisa mengambil sikap lebih hawkish jika inflasi terus berada sekitar satu persen di atas targetnya, kata ekonom Citigroup Kim Jin-wook.
Dilema juga dalam bagi Bank of Japan. Jika harga minyak mentah tetap di $110 selama setahun, hal itu dapat menurunkan pertumbuhan sebesar 0,39 poin persentase, menurut Nomura Research Institute.
Australia dan Selandia Baru mencerminkan bagaimana ekonomi yang berada pada siklus berbeda menempatkan pembuat kebijakan pada posisi sulit.
Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan berisiko melepaskan jangkar ekspektasi harga di Australia, di mana inflasi sudah relatif tinggi, kata Jonathan Kearns, kepala ekonom di Challenger dan mantan pejabat Reserve Bank of Australia.
Selandia Baru menghadapi tantangan berbeda karena ekonominya kesulitan pulih dari dampak kenaikan suku bunga sebelumnya.
"Kami menduga bank sentral, dan khususnya RBNZ, mungkin harus mentolerir inflasi yang lebih tinggi dalam jangka pendek guna menghindari mengetatkan kebijakan saat ekonomi global melambat," kata Jarrod Kerr, kepala ekonom di Kiwibank.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva, mengatakan pada hari Senin bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen, jika bertahan sepanjang sebagian besar tahun, akan mengakibatkan kenaikan inflasi global sebesar 40 basis poin.
Ekonomi Asia tengah bergejolak
Ekonomi pengimpor energi di Asia sudah bergerak untuk meredam guncangan, termasuk pembatasan harga bahan bakar dan langkah-langkah darurat penghematan energi seperti penutupan institusi atau pemindahan aktivitas untuk mengurangi konsumsi.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengatakan pada hari Senin bahwa otoritas akan membatasi harga bahan bakar domestik untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun.
Negara itu juga akan mencari sumber energi selain pasokan yang dikirim melalui Selat Hormuz, dan program stabilisasi pasar harus diperluas jika diperlukan, tambahnya.
Pemerintah Jepang menginstruksikan lokasi penyimpanan cadangan minyak nasional untuk bersiap kemungkinan pelepasan minyak mentah, kata Akira Nagatsuma, anggota partai oposisi Centrist Reform Alliance, kepada Reuters pada hari Minggu.
Vietnam berencana mencabut tarif impor atas bahan bakar untuk memastikan pasokan di tengah gangguan, kata pemerintah, menambahkan bahwa langkah ini diperkirakan berlangsung hingga akhir April.
Bangladesh akan menutup semua universitas mulai Senin, memajukan libur Idul Fitri sebagai bagian dari langkah darurat untuk menghemat listrik dan bahan bakar.
Di Pakistan, masyarakat mengisi bahan bakar kendaraan mereka di stasiun-stasiun bensin di seluruh negeri sepanjang akhir pekan setelah harga ritel diesel dan bensin dinaikkan sekitar 20 persen pada hari Jumat.
Di Dubai dan pusat perbelanjaan besar lainnya di Timur Tengah, banyak toko ditutup atau beroperasi dengan staf minimal.
Perusahaan e-niaga Amazon menutup operasi pusat pemenuhan di Abu Dhabi, menangguhkan pengiriman di seluruh wilayah, dan menginstruksikan karyawannya di Arab Saudi dan Yordania untuk tetap berada di dalam ruangan.










