BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Redam dampak perang, Rusia sepakat pasok 150 juta barel minyak ke Indonesia
Pemerintah Indonesia mengamankan komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia guna menjaga stabilitas stok energi nasional. Langkah strategis ini diambil untuk memitigasi risiko lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Redam dampak perang, Rusia sepakat pasok 150 juta barel minyak ke Indonesia
Pemandangan pabrik minyak bumi di yacimiento de Yarakta, milik Perusahaan Minyak Irkutsk, di wilayah Irkutsk / Reuters

Indonesia dipastikan akan menerima pasokan minyak mentah dalam jumlah besar dari Rusia menyusul kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Moskow baru-baru ini. Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, mengonfirmasi bahwa Moskow telah setuju untuk memasok hingga 150 juta barel minyak ke tanah air.

Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Vladimir Putin di Kremlin pekan lalu. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa kedua pemimpin fokus membahas penguatan kemitraan strategis, terutama di sektor energi yang kini menjadi isu krusial bagi ketahanan nasional.

Harga Spesial dan Stabilitas Ekonomi

Dalam keterangannya yang dikutip melalui kantor berita Antara, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk melindungi ekonomi domestik dari volatilitas pasar global. Sekitar 100 juta barel minyak akan diberikan dengan harga khusus, sementara 50 juta barel sisanya disiapkan sebagai cadangan tambahan jika diperlukan.

"Indonesia kini telah mengamankan komitmen dari pemerintah Rusia. Kita dapat menyimpan 150 juta barel di Indonesia untuk mengatasi masalah volatilitas ekonomi," ujar Hashim pada Kamis (23/4).

Langkah ini dianggap sangat penting mengingat sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah yang melintasi Selat Hormuz—jalur perdagangan vital yang saat ini rawan terganggu akibat perang.

Tantangan Pasokan Energi Domestik

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menghadapi dilema energi yang kompleks. Meski berstatus sebagai produsen minyak, Indonesia merupakan importir neto (net importer) karena konsumsi domestik jauh melampaui kemampuan produksi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mencatat bahwa kebutuhan bahan bakar nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar di angka 600.000 barel per hari. Kesenjangan ini membuat APBN sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia, terutama karena skema subsidi BBM yang masif.

Guna menjaga ketahanan stok, pemerintah sebelumnya telah menetapkan kebijakan pembatasan BBM serta instruksi bekerja dari rumah (work from home) bagi ASN satu hari dalam sepekan. Dengan adanya pasokan dari Rusia ini, pemerintah optimis dapat menjaga stabilitas harga tanpa perlu menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia amankan kesepakatan impor minyak Rusia, Menteri ESDM: Harga BBM subsidi tak naik
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi