BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Indonesia tawarkan proyek investasi baterai EV senilai Rp1.975 triliun
Pemerintah membuka peluang investasi raksasa senilai 121 miliar dolar AS untuk membangun ekosistem manufaktur baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir demi menembus lima besar dunia pada 2045.
Indonesia tawarkan proyek investasi baterai EV senilai Rp1.975 triliun
#NFY34: Indonesia bertaruh pada pabrik baterai pertama di Asia Tenggara untuk menjadi pusat EV. / AFP

Pemerintah Indonesia gencar mendorong strategi hilirisasi nasional dengan membuka peluang investasi raksasa senilai 121 miliar dolar AS atau setara Rp1.975 triliun. Langkah ini ditujukan untuk membangun ekosistem manufaktur baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam acara Korea Indonesia Economic Partnership Forum yang digelar di Jakarta pada Rabu (24/6), Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Hilirisasi dan Investasi/BKPM, Ahmad Faisal Suralaga, menegaskan keunggulan komoditas tanah air yang menjadi tulang punggung industri hijau masa depan ini.

"Dari enam bahan utama untuk membuat baterai EV, empat di antaranya berada di Indonesia. Kita memiliki nikel, bauksit, mangan, dan tembaga. Kelebihan ini memberikan Indonesia fondasi yang kuat untuk mengembangkan proses mineral ke manufaktur baterai dan kendaraan elektrik," ujar Ahmad.

Saat ini, Indonesia memegang posisi krusial sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan menguasai sekitar 42 persen porsi sumber daya global. Tak hanya terpaku pada nikel, cetak biru hilirisasi pemerintah juga mencakup pengembangan 28 komoditas strategis lainnya yang memiliki nilai kompetitif tinggi.

Bidik posisi lima besar dunia pada 2045

Melalui proyeksi jangka panjang ini, pemerintah menargetkan Indonesia mampu menembus posisi lima besar sebagai produsen baterai kendaraan listrik dunia pada tahun 2045. Peluang investasi yang disiapkan tersebar di berbagai lini, mulai dari pembangunan smelter lanjutan, produksi material aktif, manufaktur sel baterai, hingga perakitan akhir.

"Hilirisasi menciptakan nilai tambahan tertinggi. Sebagai contoh, nilai tambah nikel bisa melonjak hingga 67 kali lipat jika kita berhasil mengubahnya menjadi baterai EV," jelas Ahmad seperti dikutip dari Kompas.com.

Indonesia diklaim menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu menyediakan rantai produksi terintegrasi di dalam satu wilayah. Efisiensi ini memangkas biaya logistik internasional, bea ekspor, dan beban pajak lintas negara yang biasanya dikeluhkan oleh para investor global.

Target multiplier effect industri hilir

Berdasarkan kalkulasi pemerintah, jika seluruh target hilirisasi dan investasi strategis ini berjalan mulus, potensi total nilai investasi kumulatif diperkirakan bisa menyentuh angka 618 miliar dolar AS (sekitar Rp10.091 triliun). Dampak ekonominya pun tidak main-main: nilai ekspor diproyeksikan bertambah hingga 857 milar dolar AS (Rp13.997 triliun) sekaligus menyerap lebih dari 3 juta lapangan kerja baru.

Meski demikian, laporan kementerian mencatat bahwa fokus realisasi investasi saat ini masih timpang dan didominasi oleh satu sektor. Berikut rincian serapan investasi hilirisasi saat ini:

  • Industri Mineral: Rp98,3 triliun

  • Sektor Perkebunan & Kehutanan: Rp29,8 triliun

  • Sektor Minyak & Gas: Rp17,6 triliun

  • Sektor Kelautan: Rp1,7 triliun

Melalui forum ekonomi bersama mitra strategis seperti Korea Selatan, Indonesia berharap ketimpangan ini bisa dijembatani melalui aliran modal baru yang mempercepat komersialisasi ekosistem EV nasional.

TerkaitTRT Indonesia - Dua produsen komponen otomotif Jepang di Jatim bersiap relokasi ke Vietnam, ancam PHK ribuan pekerja
SUMBER:TRT Indonesia