China telah mengumumkan langkah-langkah baru untuk mempercepat perkembangan Shanghai sebagai pusat keuangan global dan mendorong penggunaan yuan secara internasional yang lebih luas, lapor South China Morning Post pada hari Rabu.
Berbicara pada Forum Lujiazui tahunan di Shanghai, Gubernur People's Bank of China, Pan Gongsheng, mengatakan otoritas akan meluncurkan program percontohan untuk perdagangan valuta asing yuan lepas pantai di kota itu.
Rencana ini bertujuan mendukung "pembukaan dua arah" pasar keuangan China dan membantu Shanghai menjadi pusat global untuk alokasi aset yuan dan manajemen risiko, menurut laporan tersebut.
Pan mengatakan bank sentral juga akan membentuk fasilitas repurchase untuk bank sentral dan otoritas moneter luar negeri, yang memungkinkan mereka menggunakan aset berkualitas tinggi seperti obligasi pemerintah China dalam perjanjian repurchase.
Langkah ini dirancang untuk mendukung manajemen likuiditas yuan dan mendorong lembaga asing memegang serta memperdagangkan aset yang dinyatakan dalam yuan, menurut laporan tersebut.

Dalam rencana itu, enam bank China akan diberi wewenang untuk melakukan perdagangan valuta asing yuan lepas pantai di Zona Perdagangan Bebas Shanghai melalui China Foreign Exchange Trade System.
Bank-bank tersebut adalah Industrial and Commercial Bank of China, Agricultural Bank of China, Bank of China, China Construction Bank, Bank of Communications, dan Citic Bank.
Regulator keuangan teratas China memanfaatkan forum itu untuk menekankan peran Shanghai sebagai saluran utama bagi keuangan lepas pantai dan partisipasi asing di pasar domestik China.
Langkah-langkah ini muncul saat Beijing berupaya memperkuat peran global yuan dan menampilkan sistem keuangan China sebagai sumber stabilitas di tengah volatilitas pasar global.
Shanghai telah lama menjadi pusat upaya China untuk memperdalam reformasi pasar modal, menarik lembaga keuangan asing, dan memperluas penyelesaian lintas batas dalam yuan.
Pejabat China semakin gencar mempromosikan penggunaan internasional yuan dalam perdagangan, investasi, dan pengelolaan cadangan, terutama karena negara-negara berkembang mencari alternatif terhadap saluran keuangan yang didominasi dolar, menurut laporan tersebut.















