China membutuhkan “mata uang yang kuat”
Yuan harus digunakan secara luas dalam perdagangan global, investasi, dan pasar mata uang, menurut Xi Jinping.
Presiden China itu ingin meningkatkan peran yuan dalam transaksi dan cadangan internasional.
Sang pemimpin China memaparkan rencananya di jurnal resmi Partai Komunis China, Qiushi.
Menurut Xi Jinping, China membutuhkan “bank sentral yang kuat” yang mampu mengelola sumber daya moneter secara efektif.
Selain itu, dibutuhkan lembaga keuangan yang kompetitif. Lembaga-lembaga ini akan “menarik modal global dan memengaruhi penetapan harga dunia.”
Otoritas China sudah lama berupaya mendorong internasionalisasi yuan.
Kini, pernyataan Xi Jinping tentang “mata uang yang kuat” dan fondasi finansial yang dibutuhkan menjadi semakin relevan.
Awalnya, pernyataan itu disampaikan kepada pejabat tinggi daerah pada 2024. Namun, pokok-pokok pidato Xi baru dipublikasikan pada akhir Januari 2026.
Artikel Xi Jinping terbit di tengah ketidakpastian pasar global yang meningkat. “China merasa pergeseran tatanan global kini lebih nyata dari sebelumnya,” kata ekonom Pantheon Macroeconomics, Kevin Lam.
Tak heran jika bank sentral di berbagai negara aktif membeli emas. Logam mulia itu semakin dipilih dibanding dolar.
Pada 2015, porsi dolar dalam cadangan devisa sekitar 59 persen, sementara emas sekitar 10 persen.
Kini, porsi mata uang AS turun menjadi 41 persen, sedangkan emas naik menjadi 28 persen.
Para ahli menilai pelemahan dolar dan tekanan Donald Trump terhadap Federal Reserve AS ikut berperan. Pergantian pimpinan bank sentral itu juga diperkirakan terjadi musim semi ini.
Ketegangan geopolitik dan perang dagang turut mendorong peninjauan ulang terhadap ketergantungan pada dolar.
Para ahli mencatat meningkatnya perhatian Xi Jinping pada yuan mencerminkan perubahan di panggung internasional.
Strategi finansial China
Seperti diketahui, China piawai memainkan strategi jangka panjang. Karena itu, tak mengherankan jika mereka mulai mencari cara menjauh dari dolar AS sejak 17 tahun lalu.
Krisis 2008–2009 membawa perubahan. Saat itu, otoritas China untuk pertama kalinya mengizinkan penyelesaian transaksi internasional dalam yuan, meski dengan kurs khusus dari People’s Bank of China (PBOC).
Sejak saat itu, transformasi yuan menjadi mata uang cadangan global mulai berjalan.
Namun prosesnya lambat dan hasilnya beragam.
“Yuan secara bertahap memperkuat posisinya dalam transaksi internasional, terutama dalam perdagangan China dengan Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Perjanjian mata uang bilateral bermunculan. Infrastruktur pembayaran lintas batas juga berkembang,” kata penasihat investasi sekaligus pendiri Finansologiya University, Yulia Kuznetsova, kepada TRT berbahasa Rusia.
Wakil Ketua PBOC Zhu Hexing melaporkan pada 2024 bahwa sekitar 30 persen pembayaran perdagangan luar negeri China menggunakan yuan.
Sebagai contoh, pembayaran dengan Rusia diproses dalam mata uang nasional masing-masing dan rubel. Pangsa transaksi semacam itu melampaui 99 persen pada akhir 2025.
Namun, para ahli menilai masih terlalu dini membicarakan peluang nyata yuan menjadi mata uang cadangan global.
Menurut SWIFT, yuan saat ini hanya berada di peringkat kelima atau keenam dunia dalam transaksi perbankan lintas negara, dengan porsi 2,5–3,5 persen.
Bukan hanya dolar dan euro yang mengungguli yuan. Mata uang China itu juga tertinggal dari pound sterling dan yen Jepang. Dalam cadangan devisa global, porsinya tak lebih dari 2,5 persen.
Apa yang menahan laju yuan?
Semua angka itu jauh di bawah skala ekonomi China. Pangsa China dalam ekonomi global sekitar 19–20 persen, dan dalam perdagangan dunia sekitar 15 persen.
Selain itu, yuan belum memenuhi kriteria dasar sebagai mata uang cadangan global.
Misalnya, yuan belum sepenuhnya dapat dikonversi bebas. PBOC masih mengendalikan nilai tukarnya. Dalam perdagangan luar negeri juga digunakan kurs khusus yang berbeda dari kurs domestik. China pun memiliki pasar modal yang relatif tertutup.
“Ada sisi negatif menjadi mata uang cadangan. Permintaan struktural bisa mendorong penguatan nilai tukar. Ini umumnya menguntungkan bagi ekonomi yang bergantung pada impor.
“Namun China berorientasi ekspor. Untuk model seperti itu, mata uang yang terlalu kuat tidak sejalan dengan target pertumbuhan,” ujar Wakil Kepala Perdagangan Bursa WhiteBird, Yan Pinchuk, kepada TRT Rusia.
Tak ada peluang
Terlepas dari berbagai upaya otoritas China, yuan belum bisa mengklaim peran sebagai mata uang cadangan global.
Meski begitu, China terus mengurangi ketergantungan pada dolar dalam perdagangan luar negerinya. Negara itu juga memperluas transaksi yuan, menambah cadangan emas, dan mendiversifikasi cadangan devisa.
“Namun China belum akan bisa sepenuhnya meninggalkan dolar dalam waktu dekat. Dolar tetap menjadi mata uang utama dalam perdagangan global, pasar komoditas, dan keuangan dunia,” kata Yulia Kuznetsova.
Menurutnya, belum ada mata uang yang benar-benar berpeluang menggusur dolar.
Sebagai contoh, euro tetap menjadi mata uang terpenting kedua, tetapi posisinya dibatasi oleh fragmentasi kebijakan fiskal di Uni Eropa.
Pernyataan terbaru otoritas China merupakan bagian dari strategi jangka panjang memperkuat kedaulatan finansial. Karena itu, perubahan peran secara tiba-tiba kecil kemungkinannya.
Para ahli menilai masa depan bukanlah milik “dolar baru”, melainkan sistem moneter multipolar. Dolar AS masih akan dominan, tetapi porsinya perlahan menurun seiring menguatnya mata uang regional, emas, dan mekanisme pembayaran alternatif.













