Indonesia mencatatkan kinerja ekonomi terbaik dalam tiga tahun terakhir setelah pertumbuhan pada kuartal akhir 2025 melampaui perkiraan, didorong oleh kuatnya belanja rumah tangga dan peningkatan investasi, menurut data resmi yang dirilis Kamis (5/02).
Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia melaporkan bahwa Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, meningkat dari 5,03 persen pada 2024.
Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan tahunan tertinggi sejak 2022, meski masih sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen.
Ditopang Konsumsi dan investasi
Performa kuartal keempat menjadi sorotan, dengan pertumbuhan mencapai 5,39 persen secara tahunan. Capaian ini melampaui proyeksi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan 5,01 persen dan menjadi laju tercepat sejak kuartal ketiga 2022.

BPS mencatat percepatan terjadi pada konsumsi rumah tangga dan investasi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut paket stimulus senilai Rp16,23 triliun (sekitar US$965 juta) berperan penting dalam mengerek daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan. Program tersebut mencakup penyaluran beras kepada 18,3 juta rumah tangga serta pembebasan pajak penghasilan bagi pekerja di sektor pariwisata, di antara kebijakan lainnya.
Secara tahunan, konsumsi rumah tangga meningkat 4,98 persen, menjadi yang tercepat sejak 2019. Sementara itu, investasi tumbuh 5,09 persen, level tertinggi sejak 2018.
Namun, kontribusi belanja pemerintah menunjukkan pola musiman yang kuat.
“Menjelang akhir tahun, konsumsi pemerintah naik tajam dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara ekspor justru turun dibandingkan kuartal ketiga,” kata seorang ekonom di Bank Permata, Josua Pardede.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026. Meski demikian, Pardede memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh sekitar 5,1 persen hingga 5,2 persen pada tahun berjalan karena tekanan dari kondisi global.
pelemahan IHSG yang berdampak
Ekonom di Maybank Brian Lee juga menilai peningkatan pertumbuhan pada 2026 akan terbatas akibat iklim investasi yang masih menantang, meskipun Presiden Prabowo Subianto diproyeksikan meningkatkan belanja negara. Ia menambahkan, gejolak pasar baru-baru ini dapat memengaruhi kepercayaan konsumen.
“Penurunan tajam indeks saham utama Jakarta pekan lalu bisa berdampak pada sentimen,” ujar Lee, merujuk pada pelemahan IHSG yang dipicu kekhawatiran soal transparansi dan likuiditas.
Lee juga menilai pengambilalihan pemerintah atas tambang emas Martabe di Sumatera Utara yang terdampak bencana berpotensi membebani minat investasi langsung.
Untuk menjaga momentum pada awal tahun ini, pemerintah telah mengumumkan program bantuan senilai Rp12 triliun guna menyalurkan beras dan minyak goreng selama kuartal pertama, sebagai upaya menopang pertumbuhan ekonomi awal 2026.











