Pemerintah Indonesia kembali menyampaikan kecaman keras atas eskalasi kekerasan yang terus meningkat di kawasan Tepi Barat yang diduduki Israel. Indonesia mendesak seluruh pihak untuk segera menghentikan aksi permusuhan dan mematuhi hukum internasional yang berlaku.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa posisi Indonesia tidak pernah bergeser dalam mendukung kemerdekaan dan perdamaian di Palestina.
"Posisi kami konsisten; kami terus mengutuk kekerasan yang terjadi di Tepi Barat," ujar Yvonne saat memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta, Kamis (30/7).
Yvonne menambahkan, Indonesia terus memantau dengan cermat perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut. Pemerintah Indonesia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri secara maksimal, menghormati kesepakatan gencatan senjata yang ada, serta mengedepankan jalur diplomasi untuk mencegah ketegangan regional yang lebih luas.
Peringatan PBB dan Lonjakan Kekerasan
Kecaman Indonesia ini sejalan dengan kekhawatiran global yang makin meningkat. Pada Selasa (29/7), Kantor Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Office) memperingatkan bahwa kondisi di Tepi Barat kian memburuk akibat aksi kekerasan pemukim Israel dan perluasan aneksasi wilayah Palestina.
"Kekerasan pemukim dan perluasan aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat semakin memprihatinkan," kata Juru Bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB, Ravina Shamdasani.
PBB membeberkan keprihatinannya atas rencana pemerintah Israel yang terus menambah pemukiman ilegal dan pos-pos baru (outposts). Selain itu, narasi balasan dan hukuman kolektif dari sejumlah pimpinan Israel—termasuk ancaman untuk "mengubah Tepi Barat menjadi Gaza kedua"—dinilai kian memperkeruh suasana.
Berbagai organisasi HAM internasional, termasuk lembaga independen Palestina dan Israel, melaporkan bahwa aparat keamanan Israel sering kali membiarkan, bahkan ikut serta membantu para pemukim saat melakukan penyerangan ke permukiman warga Palestina.
Ketegangan di Tepi Barat melonjak tajam sejak konflik di Gaza pecah pada Oktober 2023. Berdasarkan data dari pejabat berwenang Palestina, eskalasi militer dan serangan pemukim Israel di Tepi Barat telah merenggut lebih dari 1.182 jiwa warga Palestina, melukai sekitar 13.000 orang, serta berujung pada penahanan hampir 24.000 warga lainnya.
Sikap tegas Indonesia ini memperkuat komitmen historis Jakarta yang secara konsisten menyuarakan hak-hak rakyat Palestina di berbagai forum internasional, termasuk PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).





















