PM Australia Albanese kunjungi Timor Leste, dorong kemitraan keamanan dan energi
PM Australia Anthony Albanese berkunjung ke Timor Leste untuk memperdalam kerja sama keamanan dan energi, di tengah dorongan proyek gas Greater Sunrise dan meningkatnya persaingan pengaruh China di kawasan.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dijadwalkan mengunjungi Timor Leste hari ini, Rabu (28/01) dalam lawatan pertamanya sebagai pemimpin negara itu ke tetangga terdekat di utara, dengan agenda utama memperdalam kerja sama keamanan dan energi di tengah persaingan pengaruh regional.
Dalam kunjungan tersebut, Albanese akan menyampaikan pidato di parlemen Timor Leste serta bertemu Presiden Jose Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao.
Berdasarkan cuplikan pidato yang dibagikan sebelumnya, ia akan menekankan ikatan historis kedua negara, termasuk kerja sama antara tentara Australia dan Timor Leste pada Perang Dunia II, sebagai fondasi kemitraan masa depan.
“Kami menatap masa depan bersama, dengan kemitraan baru yang lebih dalam di bidang keamanan, energi, dan ketahanan ekonomi,” ujar Albanese dalam pernyataan yang akan disampaikan di parlemen.
Lawatan ini berlangsung ketika Timor Leste, negara kecil berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa dan mayoritas Katolik, terus mendorong pembangunan fasilitas gas alam cair (LNG) di pesisir selatan wilayahnya, alih-alih menyalurkan produksi gas ke kota Darwin di Australia.
Negara tersebut juga menjadi sasaran pendekatan China, yang pada 2023 menandatangani perjanjian strategis dengan Dili di bidang infrastruktur dan pembangunan. Ramos-Horta sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak mencakup kerja sama militer.
Optimisme soal proyek gas kembali menguat setelah Australia melalui Woodside Energy dan pemerintah Timor Leste sepakat pada Desember untuk mempelajari proyek LNG berkapasitas sekitar 5 juta ton per tahun di ladang Greater Sunrise.
Kawasan ini diperkirakan menyimpan sekitar 5,1 triliun kaki kubik gas, yang sejak 1980-an telah menjadi topik pembahasan antara Australia—awalnya bersama Indonesia—dan Timor Leste.
Perusahaan minyak nasional Timor Gap menguasai lebih dari 56 persen ladang tersebut, yang terletak sekitar 140 kilometer di selatan Timor Leste dan lebih dari 400 kilometer dari Darwin.
Ramos-Horta mengatakan bulan lalu bahwa ia yakin proyek gas besar akan akhirnya dikembangkan bersama Australia setelah tertunda selama puluhan tahun. Harapan itu sejalan dengan upaya Timor Leste membangun perekonomian yang masih rapuh, terutama setelah resmi menjadi anggota ASEAN pada Oktober lalu.
Di sisi Australia, penguatan hubungan dengan Timor Leste juga memiliki dimensi strategis.
Canberra tetap menjadi mitra utama negara itu dalam bidang bantuan dan keamanan sejak kemerdekaannya dari Indonesia pada 2002, termasuk melalui dukungan pasukan penjaga perdamaian.
Namun, meningkatnya langkah China dalam membangun hubungan keamanan dengan negara-negara berkembang di sekitar Australia telah memicu kekhawatiran di Canberra dan mendorong penataan ulang kebijakan pertahanan yang lebih fokus pada perlindungan wilayah utara.
Timor Leste terletak sekitar 700 kilometer di barat laut Australia, menjadikannya titik penting dalam kalkulasi keamanan dan energi kawasan Pasifik Selatan dan Asia Tenggara.