AS mulai penyelidikan perdagangan baru terhadap Indonesia dan sejumlah mitra dagang

Dokumen pemberitahuan resmi juga menyebutkan bahwa Indonesia menunjukkan indikasi kelebihan kapasitas struktural, yang antara lain tercermin dari surplus perdagangan barang global yang mencapai sekitar $31 miliar pada 2024.

By
Indonesia-AS teken perjanjian dagang oleh Presiden Prabowo dan Trump di Washington, pada 19 Feb 2026. / BPMI Setpres RI

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai penyelidikan perdagangan baru terhadap Indonesia dan sejumlah mitra dagang utama lainnya, dalam upaya meningkatkan kembali tekanan tarif terhadap negara-negara yang dinilai memiliki kelebihan kapasitas produksi industri.

Langkah tersebut diumumkan oleh Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer melalui investigasi berdasarkan Section 301 dari Trade Act 1974. Penyelidikan ini akan menilai apakah kebijakan dan praktik ekonomi sejumlah negara dianggap tidak adil atau diskriminatif serta membebani perdagangan Amerika Serikat.

Menurut Greer, penyelidikan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah AS untuk memperkuat kembali industri dalam negeri dan memindahkan rantai pasok strategis ke wilayah domestik.

“Amerika Serikat tidak akan lagi mengorbankan basis industrinya kepada negara lain yang mengekspor masalah kelebihan kapasitas produksi kepada kami,” kata Greer. Ia menambahkan bahwa penyelidikan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah Trump untuk “memulangkan kembali rantai pasok penting dan menciptakan pekerjaan manufaktur dengan upah layak bagi pekerja Amerika.”

Penyelidikan tersebut mencakup 16 ekonomi yang dianggap memiliki kapasitas produksi berlebih di sektor manufaktur, yakni China, Uni Eropa, Singapura, Swiss, Norwegia, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, Bangladesh, Meksiko, Jepang, dan India.

Investigasi ekspor

Dokumen pemberitahuan resmi juga menyebutkan bahwa Indonesia menunjukkan indikasi kelebihan kapasitas struktural, yang antara lain tercermin dari surplus perdagangan barang global yang mencapai sekitar $31 miliar pada 2024. Surplus tersebut didorong oleh ekspor logam, produk pertanian, serta tekstil.

Selain itu, perdagangan barang antara Indonesia dan Amerika Serikat juga mencatat surplus bagi Jakarta sebesar sekitar $56,15 miliar hingga November 2025.

Pemerintah AS juga menyoroti sektor semen Indonesia yang disebut menghadapi kelebihan pasokan permanen akibat ketidakseimbangan antara tingkat produksi dan kapasitas industri.

Investigasi ini dipandang sebagai bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk memulihkan kembali strategi tarifnya setelah sebagian besar kebijakan tarif sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Sebagai bagian dari proses penyelidikan, Kantor Perwakilan Dagang AS telah meminta konsultasi resmi dengan pemerintah negara-negara yang menjadi sasaran investigasi. Pendaftaran komentar publik terkait kasus ini akan dibuka pada 17 Maret 2026. Sidang dengar pendapat publik mengenai penyelidikan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5 Mei mendatang.