Dampak fenomena iklim El Nino mulai memicu ancaman serius di dalam negeri. Pemerintah mencatat setidaknya 81.000 hektare lahan di Indonesia telah hangus terbakar sepanjang tahun ini akibat gelombang cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi data riil yang dihimpun hingga Mei 2026. Jumlah ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
"Ancamannya akan semakin besar ketika nanti memasuki bulan Juli sampai Oktober," ujar Raja Juli dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026 di Jakarta, Kamis (18/6).
Lonjakan kasus kebakaran ini berkaitan erat dengan intensitas El Nino yang kini telah mencapai level moderat atau sedang. Guna mengantisipasi situasi yang berpotensi memburuk dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah pusat dan daerah langsung melakukan konsolidasi cepat untuk menyiapkan strategi mitigasi di lapangan.
Raja Juli menjelaskan bahwa sejumlah langkah taktis sudah mulai berjalan, termasuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing hujan buatan, serta optimalisasi teknik sekat kanal di lahan-lahan gambut yang rawan. "Insyaallah kalau semua stakeholder masih bisa bekerja dengan baik, kita akan bisa memenangkan pertarungan melawan karhutla ini," tambahnya optimis.

Operasi Darat dan Udara Dipadukan
Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan bahwa kesiapan berlapis sedang disiagakan di seluruh lini. Ia meminta seluruh instansi terkait untuk memperketat deteksi dini demi mencegah munculnya titik api (hotspot) baru dalam skala yang lebih besar.
"Upaya-upaya pencegahan diutamakan untuk kita lakukan bersama. Oleh karena itu, operasi darat maupun operasi udara harus dipadukan betul untuk menghadapi situasi yang semakin menyulitkan kita," tutur Djamari.
Bagi Indonesia, isu karhutla bukan sekadar masalah lingkungan domestik, melainkan taruhan reputasi di tingkat regional. Kabut asap lintas batas (transboundary haze) kerap menjadi sorotan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara setiap kali musim kemarau ekstrem tiba. Penguatan sinergi ini diharapkan mampu meredam dampak buruk lingkungan sekaligus menjaga komitmen hijau Indonesia di mata dunia.











