ASIA
2 menit membaca
Gunung Semeru kembali erupsi, PVMBG waspadai awan panas dan lahar
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Gunung Semeru kembali erupsi, PVMBG waspadai awan panas dan lahar
Semeru masih berada pada Level Siaga, yang menandakan peningkatan aktivitas vulkanik secara signifika sedang mengalami erupsi. / Arsip Reuters

Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9) pukul 10.59 WIB. Erupsi tersebut tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 21 milimeter dan berlangsung selama 96 detik. Ketinggian kolom erupsi tidak dapat diamati.

Semeru masih berada pada Level III atau Siaga, yang menandakan peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan atau kondisi gunung yang sedang mengalami erupsi. Berdasarkan pemantauan PVMBG pada pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas kegempaan masih terdeteksi.

Dalam periode tersebut, tercatat 29 gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 11–23 milimeter dan durasi 56–181 detik. Selain itu, terjadi empat gempa guguran dengan amplitudo 2–4 milimeter serta empat gempa harmonik dengan amplitudo 8–11 milimeter.

PVMBG mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Di luar batas tersebut, warga juga diminta menjauhi area hingga 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena terdapat risiko awan panas dan lahar yang dapat meluas hingga 17 kilometer dari puncak.

Aktivitas juga dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan tersebut berisiko terkena lontaran batu pijar.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.

PVMBG menjelaskan bahwa status Siaga mengharuskan masyarakat di kawasan rawan bencana meningkatkan kesiapsiagaan dan mengikuti arahan pemerintah. Warga di kawasan yang berpotensi terdampak juga perlu mempersiapkan diri untuk evakuasi sesuai rekomendasi teknis dan instruksi pemerintah daerah.

TerkaitTRT Indonesia - Mengapa Indonesia menjadi negara dengan gunung berapi aktif terbanyak di dunia
SUMBER:TRT Indonesia