Pemerintah Indonesia mencatat capaian positif dari penerbitan perdana obligasi global oleh Danantara Indonesia dengan nilai total $1,5 miliar, yang dinilai memperkuat sinyal kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa permintaan pasar terhadap surat utang tersebut melampaui ekspektasi awal pemerintah.
“Target awal kami $1 miliar, namun book building yang masuk mencapai sekitar $4,6 miliar. Karena tingginya minat tersebut, kami memutuskan untuk meningkatkan nilai penerbitan menjadi $1,5 miliar yang dibagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun,” kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6).
Rosan menjelaskan, tingginya minat investor terbentuk setelah rangkaian pertemuan dengan pelaku pasar global di sejumlah pusat keuangan dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, Boston, London hingga New York. Dalam rangkaian tersebut, pemerintah tercatat bertemu dengan 122 investor internasional.
Dari sisi imbal hasil, obligasi ini juga mencatat tingkat yang dianggap kompetitif, yakni 5,35 persen untuk tenor 5 tahun dan 5,95 persen untuk tenor 10 tahun. Ia menambahkan, masing-masing tenor berhasil menghimpun dana sebesar $750 juta, dengan sebagian proses transaksi sudah memasuki tahap finalisasi.
Danantara juga membuka peluang penerbitan obligasi dengan jangka waktu lebih panjang hingga 30 tahun, seiring tingginya minat investor terhadap instrumen Indonesia serta stabilitas pertumbuhan ekonomi yang dinilai tetap terjaga.
Menurutnya, faktor geopolitik dan siklus ekonomi global tidak mengurangi minat investor terhadap Indonesia yang dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan stabil.
Dari sisi komposisi investor, untuk tenor 5 tahun, 38 persen berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia. Sementara pada tenor 10 tahun, porsi terbesar juga datang dari Amerika Serikat sebesar 52 persen, disusul 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 17 persen dari Asia.









