Pemerintah Indonesia tengah mengkaji kemungkinan meningkatkan produksi batu bara secara bertahap seiring pemulihan harga komoditas energi dunia. Langkah ini diambil untuk memaksimalkan penerimaan negara sekaligus merespons dinamika pasar global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan peningkatan produksi akan dilakukan apabila harga batu bara berada pada level yang menguntungkan.
"Artinya, kalau harga batu bara bagus, kita akan tingkatkan produksi," kata Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/6), seperti dikutip Antara.
Menurut Bahlil, pemerintah ingin memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus mendukung keberlangsungan industri pertambangan nasional.
"Kalau harga bagus, produksi kita juga harus tinggi. Supaya pengusaha untung, negara untung, dan masyarakat juga merasakan dampak positifnya," ujarnya.
Kementerian ESDM sebelumnya menetapkan target produksi batu bara tahun 2026 sebesar sekitar 600 juta ton. Angka tersebut lebih rendah 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Penurunan target produksi dilakukan karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar internasional sepanjang tahun lalu.
Namun, seiring membaiknya harga batu bara, pemerintah mulai mempertimbangkan penyesuaian kuota produksi. Besaran tambahan produksi akan ditentukan berdasarkan perkembangan pasar global dan kebutuhan nasional.
"Kita lihat nanti perkembangannya," kata Bahlil.
Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Juni 2026 tercatat sebesar 121,83 dolar AS per ton, naik dibandingkan periode kedua Mei yang berada di level 116,32 dolar AS per ton.
Kenaikan harga tersebut juga dipengaruhi gangguan distribusi minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG) di pasar global. Kondisi itu mendorong peningkatan permintaan batu bara sebagai sumber energi alternatif.



















