Bidik kendali harga CPO global, pemerintah dorong hilirisasi biofuel
Upaya memperkuat posisi sebagai penentu harga minyak sawit mentah (CPO) global terus dipercepat melalui pengembangan industri hilir berbasis biofuel dan pengolahan dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan dominasi produksi sawit nasional belum diikuti kekuatan dalam menentukan harga global. Selama ini, harga acuan CPO masih banyak dipengaruhi bursa di Malaysia dan Rotterdam, meski sebagian pasokan berasal dari Indonesia.
Ia menilai penguatan hilirisasi menjadi langkah strategis agar negara produsen terbesar sawit dunia tersebut dapat memiliki kendali lebih besar atas harga. Pengembangan biofuel diprioritaskan sebagai industri hilir utama untuk pasar domestik maupun ekspor.
Program ini dijalankan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai ekspor dari sektor biofuel dan produk turunan sawit.
Menurut Amran, ekspor biofuel berpotensi meningkatkan nilai ekspor sawit hingga Rp1.500 triliun dari sekitar Rp549 triliun saat ini. Jika ditambah produk turunan seperti margarin dan minyak goreng, total nilai ekspor dapat mencapai Rp5.000 triliun.
Pengelolaan pasokan untuk dorong harga
Pemerintah juga menyiapkan strategi pengelolaan pasokan CPO melalui kebijakan fleksibel “open-and-close”. Skema ini memungkinkan sebagian pasokan yang semula ditujukan untuk ekspor dialihkan ke industri dalam negeri saat harga global rendah, lalu kembali dilepas ketika harga meningkat.
Sebagai ilustrasi, sekitar 5 juta ton CPO dapat dialihkan ke produksi biofuel domestik untuk menekan impor solar sekaligus mengurangi pasokan ekspor. Langkah tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga global.
Pendekatan serupa pernah diterapkan pada 2022 saat larangan ekspor sementara diberlakukan guna menstabilkan pasokan minyak goreng dalam negeri. Harga CPO sempat mencapai Rp32.160 per kilogram pada April 2022 sebelum turun menjadi Rp14.848 per kilogram pada April 2024.
Ekonom pertanian dari Universitas Lampung, Bustanul Arifin, menilai hilirisasi penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam beberapa tahun mendatang. Selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata berada di kisaran 5 persen per tahun.
Ia menekankan pertumbuhan tinggi tidak bisa dicapai hanya dengan mengekspor komoditas mentah. Pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah dinilai mampu menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain sawit, pemerintah juga menyiapkan hilirisasi komoditas lain seperti kelapa dan gambir. Produksi kelapa nasional yang terbesar di dunia dinilai memiliki potensi peningkatan nilai ekonomi signifikan jika diolah menjadi produk turunan.
Sementara itu, sekitar 80 persen pasokan gambir dunia berasal dari Indonesia, namun sebagian besar masih diproses di luar negeri. Pemerintah menargetkan penguatan industri pengolahan dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas tersebut.