Indonesia menyampaikan kecaman keras terhadap keputusan Israel yang menolak peta jalan 15 poin terkait pemulihan Jalur Gaza, seraya menilai langkah tersebut berpotensi menghambat upaya kolektif internasional untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (13/8), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela menegaskan bahwa peta jalan tersebut merupakan hasil konsensus berbagai pihak di komunitas global untuk memulihkan kondisi kehidupan warga Palestina di Gaza pascakonflik.
“Kami menolak setiap penolakan yang dapat menggagalkan upaya kolektif tersebut,” ujarnya.
Menurut Nabyl, rencana komprehensif itu tidak hanya bertujuan menghentikan perang, tetapi juga menciptakan stabilitas jangka panjang, baik bagi Palestina maupun kawasan sekitarnya. Ia menambahkan bahwa inisiatif tersebut telah memperoleh legitimasi internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 yang disahkan pada November 2025.

Pernyataan Indonesia muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menolak dokumen 15 poin yang disusun Dewan Perdamaian (Board of Peace) dan didukung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari Gaza sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.
Apa kata Hamas?
Di sisi lain, Hamas justru menyatakan komitmennya terhadap implementasi peta jalan tersebut.
Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut akan “terlibat secara bertanggung jawab” dalam pelaksanaan rencana dan menyusun jadwal konkret untuk tahap berikutnya. Hamas juga menilai proses tersebut penting untuk membuka jalan bagi rekonstruksi Gaza serta pengoperasian Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG).
Sejak dimulainya operasi militer Israel pada Oktober 2023, korban jiwa di Gaza dilaporkan telah melampaui 73.000 orang, dengan lebih dari 174.000 lainnya mengalami luka-luka. Meski gencatan senjata tahap pertama diberlakukan pada 10 Oktober 2025 sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Washington, serangan dilaporkan masih terus berlangsung.
Data otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1.258 orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan, mencerminkan rapuhnya situasi keamanan di wilayah tersebut.
Indonesia kembali menekankan pentingnya seluruh pihak mematuhi komitmen internasional yang telah disepakati, termasuk pelaksanaan penuh peta jalan pemulihan Gaza sebagai dasar menuju perdamaian yang berkelanjutan.

















