Polisi buru empat pelaku penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS
Polisi menduga empat orang terlibat dalam penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, berdasarkan analisis ribuan rekaman CCTV.
Aparat kepolisian mengungkap penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, diduga dilakukan oleh empat orang.
Kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil analisis 86 titik kamera pengawas (CCTV) dan 2.610 rekaman video dengan total durasi mencapai 10.320 menit yang diperiksa dalam proses penyidikan.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengatakan rekaman CCTV menunjukkan para pelaku sempat menunggu korban di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
“Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini,” ujar Iman dalam konferensi pers, Senin (16/3).
Dari lokasi tersebut, para pelaku kemudian membuntuti Andrie saat bergerak menuju Jalan Diponegoro hingga ke Jalan Salemba I. Di lokasi itulah aksi penyiraman air keras terjadi.
Iman menyebut penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti tambahan untuk mengungkap identitas pelaku serta motif di balik serangan tersebut.
Kronologi dan kondisi korban
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (12/3) malam, tidak lama setelah Andrie menghadiri rekaman podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sekitar pukul 23.00 WIB.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengatakan korban diserang oleh orang tak dikenal yang menyiramkan cairan berbahaya hingga menyebabkan luka serius di sejumlah bagian tubuh.
Andrie dilaporkan mengalami luka bakar sekitar 24 persen, terutama pada wajah, mata, dada, serta kedua tangan. Ia kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Dimas juga mengungkap ciri-ciri dua pelaku yang berada dalam satu sepeda motor. Pengendara disebut mengenakan kaos kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm hitam. Sementara penumpang menggunakan penutup wajah hitam, kaos biru tua, serta celana panjang biru yang dilipat.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena Andrie dikenal sebagai aktivis yang aktif menyuarakan isu hak asasi manusia di Indonesia.