Serangan teroris pada pos polisi Pakistan menewaskan dua orang, termasuk seorang anak

Ledakan mematikan di Khyber Pakhtunkhwa, wilayah barat laut Pakistan, juga merusak sejumlah toko di sekitar lokasi.

By
Pihak berwenang Pakistan sedang menyelidiki bom yang dijatuhkan dari sepeda motor yang menghantam gerbang kantor polisi di Bannu. [Foto arsip] / Reuters

Bahan peledak yang dipasang pada sepeda motor meledak di dekat gerbang kantor polisi di barat laut Pakistan, menewaskan sedikitnya dua orang termasuk seorang anak, serta melukai beberapa lainnya, menurut polisi dan petugas penyelamat.

Ledakan yang terjadi pada Senin itu juga merusak toko-toko di sekitar lokasi.

Serangan berlangsung di Bannu, distrik di provinsi bergolak Khyber Pakhtunkhwa yang berbatasan dengan Afghanistan, kata pejabat kepolisian setempat Fida Mohammad.

Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut dan hanya menyebut korban tewas dan luka telah dibawa ke rumah sakit terdekat.

Belum ada kelompok yang langsung mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan mengalami lonjakan kekerasan, dengan pemerintah kerap menyalahkan kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).

Ketegangan Pakistan-Afghanistan

Meningkatnya serangan telah memperburuk hubungan antara Islamabad dan Kabul, setelah Pakistan menuduh TTP beroperasi bebas di dalam Afghanistan. Tuduhan tersebut dibantah oleh TTP maupun pemerintah Kabul.

Pada November lalu, Pakistan disebut melakukan “serangan udara presisi” di wilayah perbatasan Afghanistan terhadap kelompok lokal terafiliasi TTP, Gul Bahadur Group, setelah berakhirnya gencatan senjata dua hari sebagai respons atas serangan mematikan terhadap pasukan Pakistan.

Pemerintahan Taliban Afghanistan terus membantah memberikan dukungan kepada kelompok tersebut.

TTP merupakan aliansi beberapa kelompok militan yang dibentuk pada 2007 dan utamanya menargetkan Pakistan.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 memperkirakan terdapat sekitar 6.000–6.500 anggota TTP di Afghanistan yang menggunakan senjata bekas milik NATO yang ditinggalkan.