Washington DC — Setiap Piala Dunia selalu menghadirkan satu atau dua tim yang datang tanpa status unggulan, tetapi pulang sebagai pembuat cerita terbesar di turnamen.
Dalam empat edisi terakhir dan beberapa turnamen sebelumnya, sejumlah tim yang kurang diperhitungkan mampu menumbangkan favorit dan melaju lebih jauh, menciptakan kejutan besar.
Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Ghana yang dipimpin Asamoah Gyan berhasil mencapai perempat final. Black Stars menjadi tim Afrika pertama yang mencapai delapan besar di tanah sendiri, sebelum akhirnya kalah melalui adu penalti dari Uruguay setelah handball kontroversial Luis Suarez.
Piala Dunia 2014 di Brasil menyaksikan Kosta Rika melaju ke perempat final. Meski berada di "grup neraka" bersama Italia, Inggris, dan Uruguay, mereka keluar sebagai juara grup tanpa terkalahkan dan menyingkirkan Yunani sebelum kalah dari Belanda lewat adu penalti.
Empat tahun kemudian, Kroasia menjadi runner-up Piala Dunia 2018 di Rusia. Perjalanan mereka menuju final mencakup kemenangan adu penalti atas Rusia dan kemenangan dramatis atas Inggris di semifinal, sebelum takluk 2-4 dari Prancis di partai puncak.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Maroko mencetak sejarah dengan menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal. Mereka memuncaki grup yang dihuni Belgia dan Kroasia, lalu menyingkirkan Spanyol dan Portugal sebelum kalah dari Prancis.
Dengan Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, perdebatan mengenai tim-tim kuda hitam menjadi salah satu topik paling menarik menjelang turnamen.
Format baru yang melibatkan 48 tim dan tambahan satu babak gugur dinilai memberi peluang lebih besar bagi tim-tim dengan organisasi permainan yang baik untuk melaju lebih jauh.
Namun, selain kualitas skuad, ada faktor lain yang juga harus dipertimbangkan dalam menentukan calon kuda hitam.
Jurnalis dan analis sepak bola Ali Maher Helmy mengatakan kepada TRT World bahwa grup yang dihuni tim-tim tersebut serta jalur yang mungkin mereka hadapi di fase gugur sama pentingnya dengan kualitas pemain.
Menurut Helmy, Türkiye dan bahkan Aljazair berpotensi menjadi pembuat kejutan di Piala Dunia kali ini. Sementara editor fitur GOAL, Tom Matson, menjagokan Kolombia untuk melangkah jauh, sedangkan penulis sepak bola Amee Ruszkai menyebut Swiss sebagai kuda hitam. Sejumlah pengamat lain juga menilai Ekuador berpotensi membuat kejutan.
Format 48 tim pada Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menghadirkan lebih banyak kejutan.
TRT World menyoroti sejumlah tim yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk menjadi kuda hitam dan mengganggu dominasi para favorit.
Türkiye
Türkiye menjadi salah satu tim yang memiliki peluang besar untuk melangkah jauh di turnamen ini.
Tim Bulan Sabit berada di Grup D bersama tuan rumah Amerika Serikat, Australia, dan Paraguay.
Türkiye memiliki kombinasi pemain muda dan pemain senior yang mampu membawa mereka melangkah jauh. Para analis menilai generasi saat ini bahkan lebih bertalenta dibanding tim semifinalis Piala Dunia 2002.
Beberapa pemain andalan mereka adalah Arda Guler dari Real Madrid, Kenan Yildiz dari Juventus, dan Hakan Calhanoglu dari Inter Milan.
Jika menjadi juara Grup D, Türkiye akan menghadapi salah satu tim peringkat ketiga terbaik dari Grup B, E, F, I, atau J di babak 32 besar.
Jika hanya finis sebagai runner-up grup, mereka akan menghadapi runner-up Grup G di babak 32 besar.
Peluang Türkiye untuk menghindari salah satu favorit juara di babak 32 besar cukup besar, sehingga membuka peluang mereka melangkah lebih jauh.

Norwegia
Norwegia juga dianggap sebagai salah satu tim kuda hitam di turnamen ini.
Pemain bintang mereka adalah Erling Haaland dari Manchester City dan Martin Odegaard dari Arsenal. Selain itu, winger RB Leipzig Antonio Nusa juga menjadi sosok penting.
Jika menjadi juara Grup I, Norwegia akan menghadapi salah satu tim peringkat ketiga terbaik dari Grup C, D, F, G, atau H.
Jika finis sebagai runner-up, mereka akan bertemu runner-up Grup E.
Maroko
Setelah tampil impresif dengan mencapai semifinal Piala Dunia 2022, banyak pengamat kembali menempatkan Singa Atlas sebagai salah satu kandidat kuda hitam pada 2026.
Pada Januari lalu, Maroko juga mencapai final Piala Afrika (AFCON), tetapi kalah 0-1 dari Senegal. Namun pada Maret, Konfederasi Sepak Bola Afrika membatalkan kemenangan Senegal dan memberikan kemenangan 3-0 kepada Maroko karena Senegal dinyatakan melanggar regulasi turnamen dengan meninggalkan lapangan saat pertandingan berlangsung.
Pemain bintang Maroko adalah Achraf Hakimi dari Paris Saint-Germain yang dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Afrika saat ini, serta Brahim Diaz dari Real Madrid.
Jika menjadi juara Grup C, Maroko akan menghadapi runner-up Grup F. Sebaliknya, jika finis di posisi kedua, mereka akan menghadapi juara Grup F.
Jepang
Meski berada di Grup F yang relatif sulit, banyak pengamat menjagokan Jepang sebagai salah satu tim yang berpotensi menjadi kuda hitam.
Samurai Biru memiliki skuad yang seimbang dan pemain-pemain berbakat yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun.
Bintang utama Jepang adalah winger Real Sociedad Takefusa Kubo.
Kubo, yang kerap dijuluki "Messi dari Jepang", dikenal memiliki kemampuan teknik tinggi dan kejelian dalam memanfaatkan ruang sempit.
Bek Bayern Muenchen Hiroki Ito juga menjadi salah satu pemain yang patut diperhatikan.
Jika memenangi grup, Jepang akan menghadapi runner-up Grup C. Namun jika finis sebagai runner-up, mereka akan menghadapi juara Grup C.

Aljazair
Aljazair mungkin tidak terlalu banyak dibicarakan sebagai kandidat kuda hitam pada edisi 2026. Namun, Helmy memiliki pandangan berbeda.
"Tim Aljazair memiliki banyak pemain muda, skuad yang seimbang dan terorganisasi dengan baik. Mereka telah menyingkirkan Baghdad Bounedjah dan sejumlah pemain senior lainnya. Mereka juga memiliki pelatih baru asal Swiss, Vladimir Petkovic, yang memiliki pengalaman besar di Piala Dunia," kata Helmy.
"Mereka satu grup dengan Argentina, Yordania, dan Austria. Saya pikir mereka bisa mengalahkan Austria dan Yordania. Aljazair akan lolos ke babak 32 besar bukan sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, melainkan sebagai runner-up grup," tambahnya.
Dalam laga uji coba terakhir, Aljazair menghancurkan Guatemala 7-0, bermain imbang 0-0 melawan Uruguay, serta mengalahkan Belanda—salah satu favorit juara—dengan skor 1-0.
Kapten sekaligus pemain andalan Aljazair adalah Riyad Mahrez, peraih penghargaan PFA Player of the Year 2016. Penjaga gawang mereka adalah Luca Zidane, putra legenda Prancis Zinedine Zidane.
Salah satu pemain yang patut diperhatikan adalah gelandang serang Bayer Leverkusen berusia 20 tahun, Ibrahim Maza.
Jika menjadi juara Grup J, Aljazair akan menghadapi runner-up Grup H. Sementara jika finis sebagai runner-up grup, mereka akan menghadapi juara Grup H.










