Hujan ekstrem yang mengguyur Pulau Bali dalam beberapa hari terakhir tidak hanya memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah, tetapi juga sempat mengganggu operasional penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.
Otoritas bandara menyatakan layanan kini telah kembali normal setelah cuaca membaik.
“Akibat hujan lebat di area bandara pada Selasa, kami memastikan operasional bandara saat ini sudah berjalan normal,” kata Kepala Divisi Komunikasi dan Legal Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, dalam pernyataan tertulis.
Asmadi mengatakan pihak bandara terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan AirNav Indonesia untuk memantau perkembangan cuaca.
“Kami juga memastikan infrastruktur terminal dan fasilitas pendukung tetap dalam kondisi optimal demi menjaga kualitas layanan,” ujarnya. Ia menjelaskan, lima penerbangan terdampak hujan deras disertai angin kencang.
Di luar bandara, hujan deras memicu banjir bandang dan longsor di berbagai kawasan Bali.
Menurut laporan genangan hingga satu meter terjadi di sejumlah permukiman di Denpasar setelah sungai meluap, merusak perabot rumah tangga dan kendaraan warga.
Kawasan wisata seperti Kuta, Legian, dan Sanur juga terdampak, memaksa tim penyelamat mengevakuasi warga dengan perahu karet.
Di Ubud, Kabupaten Gianyar, longsor merusak beberapa bangunan dan fasilitas umum. Kabupaten Karangasem di bagian timur Bali mencatat insiden pohon tumbang dan kerusakan jalan.
Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa.
BMKG mengeluarkan peringatan tertinggi (level merah) untuk sejumlah wilayah, memperingatkan potensi hujan lebat hingga ekstrem masih dapat berlanjut hingga Kamis (26/2).
Lembaga tersebut juga mengingatkan adanya gelombang laut setinggi hingga empat meter di perairan selatan Bali, yang berisiko terhadap transportasi laut dan aktivitas nelayan.
Menghadapi kondisi cuaca yang belum stabil, otoritas bandara mengimbau penumpang datang lebih awal ke bandara dan memantau kondisi lalu lintas.
“Kami juga menyarankan penumpang berkoordinasi dengan maskapai untuk mendapatkan informasi penerbangan terbaru,” kata Asmadi.

Bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem kembali menjadi sorotan di Indonesia setelah serangkaian insiden mematikan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk longsor di Jawa Barat yang menewaskan lebih dari 70 orang.
Salah satu bencana terbesar baru-baru ini adalah banjir besar di Sumatera pada akhir November tahun lalu yang menewaskan sedikitnya 1.190 orang dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.



















