Pemerintah Indonesia terus memperkuat sinergi dengan Australia di sektor kehutanan. Kemitraan strategis kedua negara difokuskan pada penguatan legalitas kayu, perdagangan hasil hutan berkelanjutan, serta penerapan tata kelola pengelolaan hutan lestari.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia dan Australia di sela-sela Pertemuan ke-30 APEC Experts Group on Illegal Logging and Associated Trade (EGILAT) yang berlangsung di Shenzhen, China, awal pekan ini.
Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan (IPHH) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI, Krisdianto, menegaskan bahwa kedua negara memiliki komitmen serupa dalam menjaga keabsahan rantai pasok produk kayu.
Krisdianto menambahkan, kemitraan yang makin erat ini diproyeksikan bakal mendongkrak kepercayaan pasar global terhadap produk-produk ekspor hasil hutan Indonesia yang dibekali standar ketertelusuran tinggi.
Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan bahwa kolaborasi internasional sektor kehutanan harus berorientasi pada transparansi, akuntabilitas, dan prinsip keberlanjutan.
Dorong Ekosistem Mangrove hingga Akses Pasar
Selain memperkuat kerangka Cooperation Arrangement on Forestry melalui forum Australia-Indonesia Working Group on Forestry, pertemuan ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Isu strategis yang dibahas mencakup penegakan hukum kehutanan, mitigasi kebakaran, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dalam forum regional tersebut, Indonesia turut memperkenalkan program World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat riset dan konservasi ekosistem pesisir skala global.
Pemerintah Indonesia secara terbuka mengundang pihak Australia untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan WMC melalui skema penelitian bersama, inovasi sains, dan pertukaran keahlian.
"Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kedua negara, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan pengelolaan hutan lestari dan perdagangan hasil hutan legal di kawasan Asia-Pasifik," ujar Krisdianto.





















