BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Lonjakan harga minyak picu arus keluar besar dari saham Asia
Pembatasan lalu lintas di kawasan Timur Tengah tersebut telah mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar risiko terhadap rantai pasok internasional.
Lonjakan harga minyak picu arus keluar besar dari saham Asia
Data LSEG menunjukkan investor asing telah melepas saham senilai bersih sekitar $50,45 miliar di sejumlah bursa utama kawasan. / Reuters

Arus keluar dana asing dari pasar saham Asia melonjak tajam sepanjang Maret, dipicu kekhawatiran guncangan energi global akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Data LSEG menunjukkan investor asing telah melepas saham senilai bersih sekitar $50,45 miliar di sejumlah bursa utama kawasan, termasuk Korea Selatan, Taiwan, Thailand, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Angka ini berpotensi menjadi arus keluar bulanan terbesar setidaknya sejak 2008.

Tekanan ini sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global. Menurut Reuters harga Brent tercatat melonjak hingga 65 persen sepanjang bulan ini, mencapai sekitar $119,5 per barel, di tengah gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Jason Lui, Kepala Strategi Ekuitas dan Derivatif Asia Pasifik di BNP Paribas, mengatakan kepada Reuters, aksi jual ini didorong sentimen “risk-off” yang meluas. “Arus keluar dari pasar Asia berkembang dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian investor akibat konflik di Timur Tengah, terutama karena sebagian besar negara di kawasan ini merupakan pengimpor energi,” ujarnya.

TerkaitTRT Indonesia - Saham Asia berfluktuasi akibat ketegangan Timur Tengah, Bursa Indonesia turun ke level terendah

Tekanan inflasi

Sinyal terbaru dari bank sentral utama juga menunjukkan suku bunga berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat jika tekanan inflasi akibat konflik terus berlanjut, membatasi ruang kebijakan untuk meredam perlambatan ekonomi.

Dari sisi negara, Taiwan mencatat arus keluar terbesar dengan nilai sekitar $25,28 miliar menjadi yang tertinggi dalam hampir dua dekade. Korea Selatan dan India masing-masing mengalami penjualan bersih asing sebesar $13,5 miliar dan $10,17 miliar.

Negara lain seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam juga mencatat arus keluar masing-masing sekitar $1,35 miliar, $182 juta, dan $21 juta. Sementara itu, Indonesia menjadi pengecualian dengan mencatat arus masuk bersih sekitar $59 juta dalam periode yang sama.

Ketidakpastian juga diperparah oleh gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani sebagian besar pengiriman minyak global. Pembatasan lalu lintas di kawasan tersebut telah mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar risiko terhadap rantai pasok internasional.

Dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi, negara-negara Asia menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap guncangan ini, memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Pemerintah pacu sektor ekonomi kreatif demi capai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027
Permintaan global melonjak, Kemendag naikkan harga patokan ekspor emas paruh kedua Agustus 2026
KADI Indonesia selidiki dugaan dumping impor produk polimer penyerap dari China
Presiden Prabowo percepat transisi energi, PLN diminta hentikan PLTD 13 GW
Lirik potensi energi bersih Gorontalo, UEA siap tawarkan proyek Bendungan Bulango Ulu ke Masdar
Realisasi investasi RI capai Rp1.931 triliun, Prabowo optimistis ekonomi sentuh 6 persen
Prabowo dorong industri EV nasional, sebut produksi massal mobil listrik dimulai 2028
Produksi minyak mentah harian OPEC naik sebesar 1,66 juta barel pada bulan Juli
Kemenkeu lelang delapan seri sukuk negara demi penuhi target pembiayaan APBN
Wamendag: Indonesia catat ekspor F&B $6,25 miliar, tertinggi keempat di ASEAN
BPOM dan China perkuat kerja sama pengawasan obat hingga bahan baku farmasi
Pemerintah bidik pembiayaan UMKM naik Rp2.000 triliun untuk genjot produksi
Ekspor CPO Indonesia diproyeksikan turun akibat penerapan biodiesel B50
Tingkatkan keselamatan MRT Jabodetabek, PT MITJ adopsi teknologi presisi Jepang
BEI resmi luncurkan ETF emas fisik pertama untuk tingkatkan pendalaman pasar keuangan
Ekonomi tumbuh 5,29 persen, Bakom RI: Ekonomi Indonesia tetap solid dan semakin berkualitas
Kemendag dan Brasil bahas PTA Indonesia-Mercosur untuk perluas pasar ekspor
Transaksi QRIS capai 12,55 miliar pada semester I 2026, dekati target tahunan Bank Indonesia
Indonesia dorong investasi China dan Rusia untuk proyek kereta Trans Kalimantan
Bank Dunia kucurkan penjaminan 750 juta dolar AS untuk KUR Bank Mandiri