BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Langkah MSCI pangkas status Indonesia bayangi pasar, ancam arus modal dan rupiah
Keputusan mendadak penyedia indeks global kejutkan investor, picu kekhawatiran 'capital outflow' serta tekanan nilai tukar hingga 2027
Langkah MSCI pangkas status Indonesia bayangi pasar, ancam arus modal dan rupiah
FOTO ARSIP: Foto ilustrasi logo MSCI. Foto: Reuters

Pengumuman mengejutkan dari penyedia indeks global, MSCI, yang berencana menghapus pasar saham Indonesia dari kualifikasi Emerging Market (Pasar Berkembang) memicu keprihatinan mendalam di kalangan analis dan pelaku pasar. Langkah ekstrem tersebut dinilai menjadi pukulan telak yang berisiko memicu gelombang pelepasan aset (de-risking) serta menekan stabilitas nilai tukar rupiah.

Dampak keputusan ini langsung memicu kepanikan di bursa domestik sejak pembukaan perdagangan. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan situasi dramatis yang terjadi di lantai bursa.

"Pasar tiba-tiba dibuka dan langsung anjlok. Seluruh harga saham menyentuh batas auto-rejection bawah hingga perdagangan harus dihentikan sementara (trading halt). Ini pertama kalinya terjadi sepanjang 20 tahun karier saya di pasar saham," kata Liza.

Manajer Investasi Ekuitas Pasar Berkembang di Pictet Asset Management, Tan Altundag, menilai hasil ini jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan pasar. Ia memperingatkan, jika penurunan status ke standalone benar-benar diterapkan, dana investasi pasif yang mengacu pada indeks MSCI akan terpaksa melepas saham-saham Indonesia. Pengelola dana aktif pun diprediksi akan terus memangkas porsi investasinya.

Kebutuhan penegakan hukum ketat

Merespons situasi ini, Ekonom Utama Bank Permata, Josua Pardede, menekankan bahwa prioritas mendesak bagi otoritas pasar modal Tanah Air saat ini adalah membuktikan perbaikan nyata pada transparansi dan penegakan hukum, bukan sekadar mengumumkan regulasi baru.

"Pemulihan kepercayaan investor memerlukan bukti meyakinkan bahwa praktik pasar telah benar-benar membaik dan berlanjut secara konsisten," ujar Josua.

Spesialis ASEAN dari Aletheia Capital, Angus Mackintosh, menilai langkah MSCI tergolong sangat keras mengingat berbagai upaya perbaikan keterbukaan informasi dan porsi saham publik (free float) yang telah dilakukan Indonesia. Namun, ia menggarisbawahi akar masalah utama yang masih menjadi sorotan global.

"Masalah bagi Indonesia adalah minimnya bukti implementasi dan kegagalan dalam memberikan sanksi bagi pihak yang terbukti melakukan manipulasi saham. Satu-satunya cara untuk memulihkan situasi ini adalah dengan menjatuhkan sanksi dan denda berat," tegas Mackintosh. Ia menambahkan, mengelompokkan Indonesia bersama negara seperti Lebanon, Palestina, dan Argentina terasa tidak masuk akal jika melihat fundamental ekonomi nasional.

TerkaitTRT Indonesia - IHSG anjlok terparah sejak 1998 usai MSCI gagas penurunan status ke pasar 'standalone'

Risiko rupiah dan ketidakpastian berkepanjangan

Di sisi moneter, Ekonom Senior DBS Bank, Radhika Rao, serta Manajer Portofolio Allspring Global Investments, Gary Tan, memperingatkan bahwa ancaman terbesar bukan hanya pada pasar saham, melainkan potensi tekanan pada mata uang rupiah akibat penarikan modal asing. Hal ini diperkirakan akan menuntut kewaspadaan dan intervensi lebih tinggi dari Bank Indonesia.

Ekonom Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menambahkan bahwa penilaian tajam dari MSCI ini berisiko mengurangi partisipasi investor institusi, menipiskan likuiditas, serta meningkatkan biaya pendanaan berbasis ekuitas. Menurut Irman, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big cap) menjadi sektor yang paling rentan terdampak.

Sementara itu, Kepala Riset Ekuitas ASEAN Macquarie Capital, Jayden Vantarakis, menyebutkan bahwa perpanjangan masa konsultasi hingga April 2027—dengan keputusan akhir pada Juni 2027—akan memperpanjang periode ketidakpastian bagi para investor global di pasar modal Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - MSCI ancam hapus Indonesia dari indeks global, IHSG dan rupiah anjlok
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Indonesia targetkan potensi ekspor $60,5 miliar di empat pasar utama
Indonesia dan Yunani gelar pertemuan JCEC perdana, perluas perdagangan dan investasi bilateral
IMF proyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen di tengah tekanan global
Emas dunia turun ke $4.168, rupiah melemah dan IHSG mendekati level 5.900
OJK beri peringatan keras soal risiko aset digital dan AI terhadap stabilitas perbankan
Gubernur BI beberkan strategi jaga rupiah dan kurangi ketergantungan dolar AS
Harga minyak mentah Indonesia naik 26,1 persen, tembus $112,81 per barel
Eni lepas porsi saham di blok migas Indonesia ke Pertamina dan Medco Energi
IsDB siapkan strategi kemitraan $2,56 miliar untuk dukung transformasi ekonomi Indonesia
Filipina dorong interkoneksi listrik empat negara ASEAN di tengah ancaman krisis energi
Indonesia resmikan 11 proyek hilirisasi nikel, ekspor perdana baterai EV dimulai
Danantara gabungkan 23 kawasan industri BUMN untuk dorong daya saing investasi
Prabowo tegaskan komitmen lindungi investasi terutama industri nikel dan aluminium Indonesia
Patuhi regulasi perlindungan anak, TikTok nonaktifkan 9 juta akun anak di bawah umur
Pertemuan ke-44 ASEAN Ministers on Energy Meeting, ASEAN perkuat kerja sama energi regional
Indonesia bidik investasi Rp13.000 triliun demi wujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen
Kawasan industri pelat merah bakal gratiskan biaya sewa lahan demi tarik investasi
Danantara suntik US$250 juta ke produsen migas AS HighPeak Energy
IHSG melemah ikuti tekanan bursa Asia, indeks berpeluang menguat ke level 6.280
Surplus perdagangan Indonesia capai Rp129,76 triliun hingga Agustus 2026