IKLIM
2 menit membaca
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi beruntun, otoritas tetapkan radius bahaya
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat usai serangkaian erupsi, otoritas imbau warga jauhi radius 3 km.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi beruntun, otoritas tetapkan radius bahaya
Kepulan asap membubung dari Gunung Anak Krakatau saat meletus di Selat Jawa, Indonesia pada hari Minggu, 23 Desember 2018. / AP Archive

Otoritas terkait terus memantau peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda setelah gunung api aktif tersebut dilaporkan mengalami serangkaian erupsi beruntun.

Berdasarkan laporan yang dihimpun Anadolu Agency dari media lokal, tercatat setidaknya empat kali letusan berturut-turut terjadi pada Senin malam.

Masing-masing letusan memperlihatkan karakteristik serupa dengan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 300 meter di atas puncak, atau kurang lebih 457 meter di atas permukaan laut.

Petugas Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Kecamatan Rajabasa, Andi Suwardi, mengonfirmasi bahwa aktivitas erupsi masih terus berlanjut hingga Senin malam.

Rentetan letusan pada malam hari tersebut memperpanjang rangkaian aktivitas vulkanik yang telah berlangsung sejak Senin pagi hingga sore hari.

Pada periode tersebut, tinggi kolom abu vulkanik tertinggi yang teramati sempat mencapai sekitar 400 meter di atas puncak kawah aktif.

Menyikapi peningkatan aktivitas ini, pihak berwenang mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk tidak mendekati area kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan mengosongkan seluruh aktivitas dalam radius bahaya sejauh 3 kilometer dari pusat kawah.

Secara historis, Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan antara Pulau Sumatra dan Jawa mulai muncul ke permukaan laut pada akhir dekade 1920-an di dalam kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883.

Letusan legendaris pada 1883 silam tercatat sebagai salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan dalam sejarah, yang memicu gelombang tsunami besar dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa di pesisir Selat Sunda.

Aktivitas Anak Krakatau juga sempat memicu bencana serupa pada Desember 2018, ketika longsoran sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung.

TerkaitTRT Indonesia - Gunung Anak Krakatau erupsi enam kali, kolom abu capai 250 meter
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Imbas kabut asap Indonesia, Singapura jadi kota paling berpolusi di dunia
Gempa magnitudo 5,2 guncang Lombok Barat, BMKG sebut akibat deformasi batuan
Walhi dan Greenpeace ingatkan Indonesia tetap waspada karhutla meski titik panas turun
Kabut asap karhutla Indonesia selimuti Malaysia dan Singapura, kualitas udara di level tidak sehat
Polusi PM2.5 tinggi, kualitas udara Jakarta terburuk keempat di dunia
Ahli: Indonesia punya peluang besar di COP31 Antalya, Türkiye
Air Waduk Karian surut, Desa Somang yang terendam kembali terlihat
Hujan turun, warga Pontianak bernapas lega lepas dari kabut asap karhutla
Musim kemarau picu kekeringan, warga dan lahan pertanian di Bekasi terdampak
Gunung Semeru erupsi enam kali, kolom abu capai 900 meter
AQI Jakarta capai 159, kebakaran hutan Indonesia perburuk kualitas udara di Asia Tenggara
BMKG perkirakan musim hujan di Indonesia mundur ke awal November akibat El Nino
Banjir bandang terjang Solok, satu orang dilaporkan hilang
Karhutla Indonesia berpotensi berlanjut hingga awal November – Kemenhut
BNPB siapkan 3 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca atasi karhutla dan kabut asap di Kaltim
Kebakaran hutan terburuk dalam 11 tahun perparah krisis ISPA di Kalimantan
BPBD catat 2.676 karhutla di Sumsel hingga September, 15 daerah masuk zona merah
AQI Jakarta capai 158, kualitas udara masuk empat terburuk dunia
Pemantauan kabut asap tunjukkan dampak karhutla Indonesia di Asia Tenggara