Hujan deras yang tak henti-hentinya di seluruh Asia Tenggara terus memicu banjir dan tanah longsor yang merusak di Thailand dan Indonesia, menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Otoritas di kedua negara memperingatkan bahwa pola monsun yang semakin intens dan sistem cuaca yang tidak menentu terus mengancam lebih banyak komunitas, sementara upaya penyelamatan dan pemulihan sedang berlangsung.
Banjir dan tanah longsor menewaskan sedikitnya tiga belas orang dan melukai puluhan lainnya setelah hujan lebat melanda pulau Sumatra di Indonesia, kata pejabat berwenang bencana pada Rabu.
Cuaca ekstrem telah menerjang Sumatra Utara selama beberapa hari, menyebabkan banjir di sebagian wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan sejak Senin, menurut badan nasional penanggulangan bencana BNPB.
"Di Tapanuli Selatan, bencana banjir dan tanah longsor telah menyebabkan delapan orang meninggal, 58 luka-luka, dan 2.851 warga harus mengungsi," kata juru bicara BNPB Abdul Muhari dalam sebuah pernyataan.
Badan penanggulangan bencana setempat telah menurunkan alat berat untuk membersihkan material longsoran yang menutup akses jalan ke kabupaten tersebut, tambahnya.
Setidaknya tiga kabupaten lain di provinsi tersebut juga terdampak banjir dan tanah longsor, tambahnya.

Bibit siklon, formasi cuaca yang berpotensi berkembang menjadi siklon tropis, menjadi penyebab cuaca ekstrem tersebut, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Sementara itu, Korban tewas di Thailand akibat banjir di bagian selatan negara itu mencapai 33 orang, kata seorang pejabat tinggi pemerintah pada Rabu.
Penyebab kematian termasuk tanah longsor dan tersengat listrik, kata juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat.
Musim monsun tahunan, yang biasanya berlangsung antara Juni dan September, sering membawa hujan lebat yang memicu tanah longsor, banjir bandang, dan penyakit yang ditularkan melalui air.
Perubahan iklim telah memengaruhi pola badai, termasuk durasi dan intensitas musim tersebut, sehingga menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi, banjir bandang, dan hembusan angin yang lebih kencang.
















