Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara melaporkan bahwa 13 orang meninggal dunia akibat rangkaian bencana hidrometeorologi (banjir dan tanah longsor) yang melanda tujuh kabupaten/kota di provinsi tersebut, dilansir dari laporan terbaru Antara.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati berbicara kepada Antara dari Medan mengatakan bahwa para korban tersebar di dua kabupaten.
“Hingga pukul 08.00 WIB, total ada 13 korban meninggal di tujuh daerah,” tambahnya menjelaskan tujuh daerah terdampak di dua kabupaten di Sumut.
Di Kabupaten Tapanuli Selatan, terdapat sembilan korban jiwa, terdiri atas enam orang di Kecamatan Batangtoru, serta masing-masing satu orang di Kecamatan Sipirok dan Kecamatan Angkola Barat.
Sementara itu, empat korban lain berasal dari Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang tewas setelah rumah mereka tertimbun longsor.
Menurut BPBD Sumut, curah hujan yang tinggi sejak Sabtu minggu lalu hingga Selasa menyebabkan sejumlah sungai meluap dan memicu banjir serta longsor di tujuh wilayah: Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.
Selain korban meninggal, 37 orang mengalami luka-luka, dan tiga orang masih hilang di Tapanuli Selatan. Data korban di Tapanuli Tengah masih dalam proses pendataan.
Kerusakan infrastruktur dan permukiman juga cukup luas. Di Tapanuli Selatan, tercatat 330 rumah rusak—12 rusak berat, enam rusak sedang, dan 312 rusak ringan—serta satu bangunan sekolah terdampak. Di Mandailing Natal, sebanyak 561 kepala keluarga (2.244 jiwa) mengungsi, 13 rumah rusak berat, satu sekolah terdampak, serta 85 hektare lahan pertanian terendam.
Sementara di Tapanuli Utara, terdapat 19 kepala keluarga di lokasi pengungsian, lima rumah rusak berat, 64 rumah rusak ringan, empat titik jalan rusak, dan satu jembatan putus.
“Di Nias Selatan, satu rumah rusak berat dan satu ruas jalan terdampak. Sedangkan di Padangsidimpuan, satu orang masih hilang dan 220 jiwa mengungsi,” kata Sri Wahyuni, dikutip oleh Antara.


















