BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia perketat pengawasan bursa saham setelah peringatan MSCI
BEI mengumumkan rencana mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks utama mulai 2 November. Daftar tersebut saat ini mencakup 80 perusahaan.
Indonesia perketat pengawasan bursa saham setelah peringatan MSCI
Papan elektronik menampilkan indeks pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Indonesia, pada 21 Oktober 2026. / Reuters

Indonesia memperkuat pengawasan pasar modal untuk mencegah manipulasi harga saham dan meningkatkan transparansi kepemilikan perusahaan. Langkah ini diambil setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) memperingatkan kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia akibat kekhawatiran terhadap praktik perdagangan yang tidak transparan.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik pada Senin (26/10) mengatakan komite yang menyusun daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi akan diperluas dengan melibatkan pihak independen, termasuk akademisi dan F. Chapman Taylor, mantan mitra Capital Group yang kini menjadi penasihat Danantara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pengawasan akan diperkuat untuk mendeteksi transaksi tidak wajar dan perdagangan terkoordinasi. BEI juga akan menyelidiki dugaan manipulasi harga serta membekukan rekening investor mencurigakan mulai November.

Kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham diperpanjang hingga Juni 2027. Namun, pelaksanaannya tetap harus memenuhi ketentuan minimum saham yang tersedia untuk diperdagangkan di publik (free float).

BEI ubah komposisi indeks saham

Pekan lalu, BEI mengumumkan rencana mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks utama mulai 2 November. Daftar tersebut saat ini mencakup 80 perusahaan.

MSCI sebelumnya memperingatkan kemungkinan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) karena dinilai belum cukup mengatasi praktik perdagangan terkoordinasi.

Peringatan itu memicu aksi jual saham terbesar sepanjang sejarah pasar Indonesia dalam dua hari perdagangan, pada 16 dan 19 Oktober, serta membawa indeks utama ke level terendah sejak 2020.

OJK menyatakan telah berkomunikasi dengan MSCI dan penyedia indeks global lainnya, termasuk FTSE Russell, untuk menegaskan komitmen reformasi. Sejak peringatan MSCI pada Januari, Indonesia meningkatkan keterbukaan data investor dan kepemilikan saham, menaikkan batas minimum free float, serta menjatuhkan denda besar terhadap pelaku manipulasi pasar.

Di tengah gejolak pasar, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral tetap hadir di pasar valuta asing untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran.

TerkaitTRT Indonesia - Ancam turunkan status pasar saham RI, Presiden Prabowo sebut MSCI coba intimidasi Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi