BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Tekanan MSCI bayangi pasar Indonesia, status ‘emerging market’ diprediksi bertahan
Dalam tinjauan terbaru, MSCI menurunkan penilaian pada aspek aliran informasi menjadi negatif, menyoroti keterbatasan data kepemilikan dan aktivitas pasar yang dinilai mengganggu pembentukan harga yang wajar.
Tekanan MSCI bayangi pasar Indonesia, status ‘emerging market’ diprediksi bertahan
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (IDX) di Jakarta.

MSCI kembali menyoroti daya tarik investasi Indonesia dengan menilai rendah transparansi kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan terkoordinasi. Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang dalam evaluasi penting pekan depan.

Sejak peringatan awal pada Januari, pasar saham Indonesia tertekan. Indeks acuan Jakarta telah turun sekitar 29 persen sepanjang 2026, sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar 3,65 miliar dolar AS. 

Kekhawatiran penurunan status ke frontier market—yang berpotensi memicu arus keluar dana hingga 13 miliar dolar AS—dinilai masih kecil kemungkinannya.

Dalam tinjauan terbaru, MSCI menurunkan penilaian pada aspek aliran informasi menjadi negatif, menyoroti keterbatasan data kepemilikan dan aktivitas pasar yang dinilai mengganggu pembentukan harga yang wajar.

TerkaitTRT Indonesia - IHSG berpotensi volatil di tengah tekanan harga minyak dan suku bunga tinggi

Namun, sejumlah analis menilai penilaian tersebut tidak mencerminkan pelemahan menyeluruh. Manajer investasi SGMC Capital, Mohit Mirpuri, mengatakan hanya satu indikator yang memburuk. 

“Ini bukan penurunan luas dalam aksesibilitas pasar Indonesia,” ujarnya, seraya tetap memperkirakan status emerging market akan dipertahankan.

Otoritas Indonesia menyatakan evaluasi MSCI sejalan dengan arah reformasi yang sedang dilakukan, termasuk peningkatan batas free float dan penguatan tata kelola pasar. Pengawas pasar modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut perbaikan transparansi sebagai proses berkelanjutan dan bagian dari evaluasi konstruktif.

Meski demikian, tekanan dinilai bersifat struktural. 

Gary Tan dari Allspring Global Investments melihat kondisi ini sebagai katalis reformasi lebih lanjut, bukan ancaman langsung. Sementara itu, sorotan MSCI juga memperkuat kekhawatiran investor terhadap stabilitas kebijakan dan fiskal, yang turut menekan rupiah dan mendorong kenaikan suku bunga.

Kepala riset Maybank Indonesia, Jeffrosenberg Chen Lim, menilai fokus perhatian kini telah bergeser dari isu teknis akses pasar ke persoalan kepercayaan dan tata kelola. 

“Indonesia mungkin terhindar dari penurunan peringkat tahun ini, tetapi pengawasan ketat akan berlanjut hingga ada perbaikan nyata dalam transparansi dan pengawasan pasar,” ujarnya. 

TerkaitTRT Indonesia - IHSG melemah tajam setelah MSCI hapus enam saham Indonesia dari indeks global
SUMBER:Reuters