Pemerintah Indonesia terus bergerak cepat untuk mengamankan investasi asing demi menyokong target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam upaya terbaru, Indonesia membidik para investor dari Australia dengan menawarkan kerja sama strategis di sektor pangan dan infrastruktur.
Langkah ini dilakukan dalam forum Indonesia–Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 yang digelar di Sydney, Australia, pada Selasa (30/6/2026). Forum bertema "Financing Sustainable Growth" ini mempertemukan para pejabat tinggi, lembaga keuangan, serta pelaku usaha dari kedua negara.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa investasi merupakan mesin utama untuk mendorong perekonomian nasional saat ini. Untuk menyukseskan agenda Asta Cita Presiden Prabowo, pemerintah menargetkan realisasi investasi mampu menembus angka Rp3.414 triliun pada tahun 2029.
"Pemerintah Indonesia terus melakukan reformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus," ujar Todotua dalam pidato kuncinya.
Menurut Todotua, Indonesia dan Australia kini berada pada momentum yang sangat tepat untuk memperkuat kemitraan karena struktur ekonomi kedua negara yang saling melengkapi. Terlebih lagi, kerja sama perdagangan ini sudah dipayungi oleh kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang semakin matang.
Selain sektor pangan dan infrastruktur, Indonesia juga membuka peluang investasi pada sektor-sektor prioritas lain seperti energi terbarukan, semikonduktor, ekonomi digital, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Keseriusan hubungan dagang ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan Australian Chamber of Commerce and Industry (ACCI) untuk memperluas hubungan bisnis konkret secara langsung.
Forum ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno, Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono, serta Menteri Perindustrian dan Perdagangan New South Wales Anoulack Chanthivong. Selain itu, perwakilan dari Austrade, Lowy Institute, PT Indonesia Infrastructure Finance, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk turut hadir membahas skema pembiayaan inovatif untuk memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara tetangga ini.


















