Bank Indonesia (BI) diproyeksikan bakal mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung Rabu (21/10). Penilaian ini mengemuka dari hasil survei terbaru Reuters terhadap para ekonom, di tengah gejolak pasar keuangan dan tekanan pada nilai tukar rupiah pascaperingatan lembaga pemeringkat MSCI.
Rupiah yang tercatat telah melemah sekitar 8 persen sepanjang tahun ini, kembali mengalami koreksi mendekati 1 persen usai MSCI mengumumkan rencana evaluasi status pasar modal Indonesia dari emerging markets menjadi standalone market.
Peringatan dari MSCI tersebut sempat memicu respons spontan dari sejumlah lembaga keuangan global. Citibank, misalnya, mengubah proyeksinya dengan memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan secara preemtif sebesar 50 basis poin (bps) guna menahan laju depresiasi mata uang.
Meski demikian, data inflasi domestik yang relatif terjaga memberikan ruang bagi Bank Sentral untuk tidak tergesa-gesa memperketat kebijakan moneter. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September tercatat berada di level 3,28 persen secara tahunan (year-on-year), masih berada dalam kisaran target BI sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Sementara itu, inflasi inti melandai ke angka 2,84 persen.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 29 ekonom pada periode 13–19 Oktober, sebanyak 15 responden memperkirakan BI akan mempertahankan 7-day reverse repurchase rate di level 5,75 persen. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap masing-masing di level 4,75 persen dan 6,50 persen.
"Ditinjau dari kacamata kebijakan moneter, dampak pengumuman MSCI ini masih terlalu dini untuk disimpulkan secara definitif, meskipun tentu merumitkan situasi," ujar Miguel Chanco, Ekonom Senior Emerging Asia di Pantheon Macroeconomics.
Chanco menambahkan bahwa secara fundamental ekonomi, peningkatan suku bunga belum mendesak dilakukan, terlebih BI telah menaikkan suku bunga acuan akumulatif sebesar 100 basis poin pada awal tahun ini.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI dinilai masih memiliki opsi instrumen non-suku bunga. Langkah-langkah seperti optimalisasi instrumen hedging valas, pemanfaatan kerja sama transaksi mata uang lokal (local currency transaction), hingga penggunaan cadangan devisa yang saat ini tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS menjadi tumpuan utama.
Kendati demikian, mayoritas ekonom memperkirakan BI tetap memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 6,00 persen sebelum akhir tahun ini. Proyeksi tersebut didorong oleh kewaspadaan terhadap fluktuasi harga minyak mentah global serta arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang masih cenderung ketat.




















