Sebanyak 527 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Setelah insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan sambil melakukan evaluasi dan investigasi.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat korban yang terdata pada 4–6 Agustus terdiri atas balita, peserta didik PAUD, siswa SD dan SMP, serta sejumlah orang dewasa. Mereka mengalami gejala seperti sakit perut, mual, muntah, diare, demam, kram perut, dan lemas. Seluruh pasien mendapat penanganan di Puskesmas Depapre dan RSUD Yowari.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berry I.S. Wopari, mengatakan tidak ada pasien yang berada dalam kondisi mengancam jiwa. Menurutnya, kondisi sebagian besar pasien terus membaik dan jumlah kasus baru mulai menurun sejak Rabu (5/8) malam.
Wakil Kepala BGN Mayor Jenderal TNI Trenggono meninjau langsung dapur MBG yang dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua. Hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah kekurangan, termasuk aspek kebersihan dan fasilitas yang belum memenuhi standar operasional.
"Sesuai dengan SOP kita, kalau ada siswa yang keracunan maka kita suspend, apalagi jumlahnya besar seperti ini," kata Trenggono.
Standar dapur dievaluasi
Ia menambahkan, dapur dinilai tidak memenuhi standar higienitas, termasuk instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sehingga operasionalnya dihentikan sementara selama proses evaluasi. Menurutnya, status tersebut dapat berubah menjadi penutupan permanen apabila ditemukan pelanggaran serius.
Kepolisian melakukan penyelidikan dengan mengamankan enam sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Forensik Polda Papua serta memeriksa sekitar 30 saksi untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menyampaikan hasil laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah sampel makanan dalam kasus keracunan MBG di Jayapura dan Semarang. Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono menyebut dugaan awal mengarah pada proses memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.
BGN menegaskan kasus ini tidak menghentikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis secara nasional. Tim gabungan dari BGN, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Papua, TNI, dan Polri masih melanjutkan investigasi untuk memastikan penyebab insiden tersebut.


























