Inggris dan Kroasia akan kembali melanjutkan rivalitas yang telah terbangun di berbagai panggung besar sepak bola internasional saat keduanya bertemu pada laga pembuka Grup L Piala Dunia FIFA 2026. Pertandingan ini berpotensi menentukan arah persaingan di grup tersebut.
The Three Lions yang menempati peringkat keempat FIFA datang ke Amerika Utara dengan salah satu skuad terdalam di turnamen, memadukan para pemain bintang berpengalaman dengan generasi talenta muda yang tengah bersinar.
Inggris berupaya mengakhiri penantian selama 60 tahun untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia. Kemenangan atas Vatreni di Dallas Stadium, Texas, tidak hanya akan memperbesar peluang mereka menjadi juara Grup L, tetapi juga mengirimkan pesan kepada para pesaing lainnya.
Di sisi lain, Kroasia yang berada di peringkat ke-11 FIFA kembali menjalani peran sebagai spesialis turnamen besar.
Meski memiliki populasi kurang dari empat juta jiwa, negara Balkan itu telah menjelma menjadi salah satu tim paling konsisten di level internasional, dengan mencapai final Piala Dunia 2018 dan meraih peringkat ketiga empat tahun kemudian di Qatar.
Meski banyak pahlawan dari generasi tersebut telah pergi, reputasi Kroasia sebagai tim yang tangguh, disiplin secara taktik, dan mampu tampil baik di bawah tekanan masih tetap terjaga.
Dengan Ghana dan Panama juga menghuni Grup L, kedua tim memahami bahwa hasil positif pada laga pembuka dapat menjadi faktor penentu dalam perebutan tiket ke babak gugur.

Formasi
Pertandingan ini diperkirakan menghadirkan benturan dua gaya bermain yang berbeda. Inggris kemungkinan akan lebih mendominasi penguasaan bola dan mengandalkan kecepatan serta kreativitas lini serang, sementara Kroasia akan berusaha mengontrol tempo permainan dari lini tengah dan memanfaatkan momen transisi.
Di Piala Dunia, susunan pemain biasanya baru dipastikan sesaat sebelum kick-off.
Namun, Inggris diperkirakan akan menggunakan formasi 4-2-3-1 yang dapat berubah menjadi 4-3-3 tergantung jalannya pertandingan. Gaya bermain mereka mengandalkan penguasaan bola yang dipadukan dengan serangan langsung.
The Three Lions dihuni banyak pemain bintang, termasuk penyerang Bayern Munich Harry Kane dan gelandang Arsenal Declan Rice.
Bintang lainnya adalah gelandang Real Madrid Jude Bellingham. Namun, hubungan Bellingham dengan pelatih Thomas Tuchel sempat mengalami pasang surut sehingga posisinya di tim inti belakangan dipertanyakan.
Meski demikian, apabila Bellingham masuk dalam susunan pemain utama, ia diperkirakan akan memainkan peran besar bagi The Three Lions.
Gelandang senior Jordan Henderson menilai kekuatan utama Inggris terletak pada kebersamaan tim, bukan pada keyakinan para pemain bintang bahwa mereka bisa membawa tim sendirian.
"Akan ada momen-momen sulit ketika kami harus berjuang keras, dan semakin kompak kami sebagai sebuah kelompok, semuanya akan menjadi lebih mudah," kata Henderson.
Kroasia juga biasa menggunakan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1. Berbeda dengan Inggris, tim asuhan Zlatko Dalic lebih mengandalkan kontrol lini tengah dan cenderung memperlambat tempo pertandingan, sesuatu yang diperkirakan akan mereka lakukan untuk meredam serangan langsung Inggris.
'Saya ingin menikmati setiap pertandingan'
Bintang terbesar Kroasia tentu saja gelandang veteran AC Milan Luka Modric. Pada usia 40 tahun, ia dianggap banyak pihak sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah sekaligus pemain terbaik yang pernah dimiliki Kroasia.
Pemain penting lainnya adalah Mateo Kovacic. Selama sebagian besar kariernya di tim nasional, Kovacic berada di bawah bayang-bayang Modric, namun perannya tak kalah vital dalam skema permainan tim.
Kane telah meminta rekan-rekannya untuk tampil tanpa beban dan bermain lepas saat menghadapi Kroasia.
"Ini tentu salah satu peluang terbaik yang kami miliki sebagai tim untuk memenangkannya," kata Kane pada Selasa. "Semua orang sangat ingin memulai dengan baik besok dan membuktikan bahwa kami memiliki kemampuan untuk melangkah jauh di turnamen ini. Pada akhirnya, pesan saya adalah bermain dengan pikiran yang bebas."
Turnamen ini menjadi penampilan terakhir Modric, salah satu pemain sepak bola paling dihormati dalam dua dekade terakhir.
"Setiap pertandingan, setiap turnamen terasa spesial pada usia 40 tahun bersama tim nasional," kata Modric menjelang laga melawan Inggris.
"Tujuan saya di turnamen ini adalah menikmatinya, memberikan yang terbaik, tetapi juga menikmatinya. Saya ingin menikmati setiap pertandingan dan setiap sesi latihan bersama para pemain ini."

Lebih dari sekadar sepak bola
Selain pertarungan taktik, laga ini juga memiliki nilai historis yang kuat. Setiap pertemuan Inggris dan Kroasia selalu menghadirkan pertaruhan besar dan meninggalkan cerita yang berkesan.
Duel ini langsung mengingatkan pada sejumlah pertemuan dramatis yang mewarnai hubungan kedua negara dalam dua dekade terakhir, mulai dari kegagalan Inggris lolos ke Euro 2008 akibat Kroasia hingga bentrokan semifinal Piala Dunia 2018 di Rusia yang begitu dikenang.
Bagi Inggris, pertandingan ini menjadi ujian besar pertama bagi skuad yang memikul ekspektasi tinggi dari publik yang percaya generasi emas mereka mampu bersaing memperebutkan trofi.
Yang tak kalah penting, laga ini menjadi kesempatan untuk membalas kekalahan 1-2 dari Kroasia pada semifinal Piala Dunia 2018.
Ketika sorotan Piala Dunia beralih ke Grup L, babak baru dari rivalitas yang kerap menghadirkan drama di panggung sepak bola terbesar dunia kembali akan ditulis.
Meski Inggris lebih diunggulkan, Piala Dunia 2026 sejauh ini telah menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar pasti.










