ASIA
2 menit membaca
Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir, 8 bandara ditutup akibat abu vulkanik
Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif.
Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir, 8 bandara ditutup akibat abu vulkanik
Anak Krakatau di Lampung Selatan menyemburkan asap dan abu vulkanik saat erupsi pada 6 September 2026. / PVMBG via Reuters

Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam. Badan Geologi menyatakan aktivitas gunung api tersebut kini kembali menunjukkan karakteristik letusan Strombolian, meski potensi erupsi lanjutan masih tinggi.

Fase erupsi menerus berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah fase tersebut berakhir, Badan Geologi mencatat tiga gempa erupsi Strombolian.

Berdasarkan pemantauan pada 6–7 September, tercatat tiga gempa erupsi, sembilan gempa embusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hybrid atau multiphase, empat gempa tremor menerus, dan satu gempa vulkanik dangkal.

Grafik Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) yang sempat meningkat pada Sabtu (5/9) menunjukkan tren menurun sejak Minggu (6/9). Sementara itu, pemantauan deformasi di Stasiun Tanjung menunjukkan sedikit inflasi sejak awal Agustus, sedangkan Stasiun Lava93 memperlihatkan pola yang konstan.

Badan Geologi mempertahankan status aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Lembaga tersebut menyatakan kemungkinan terjadinya letusan dalam periode berikutnya masih besar.

Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika fase erupsi menerus kembali terjadi, aliran lava juga dapat menjadi ancaman.

8 bandara ditutup

Aktivitas Anak Krakatau juga berdampak luas akibat sebaran abu vulkanik. Citra satelit menunjukkan dua awan abu, dengan salah satunya mencapai sekitar 20.000 kaki atau 6.100 meter dan bergerak ke arah Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Awan abu lainnya mencapai sekitar 50.000 kaki atau 15.200 meter dan menyebar ke sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Sumatra.

Kondisi tersebut mengganggu transportasi udara. Delapan bandara, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta, ditutup sementara akibat abu vulkanik. Hingga Minggu malam, 1.558 penerbangan dibatalkan dan sekitar 170 ribu penumpang terdampak.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan belum dapat memastikan kapan seluruh operasional kembali normal karena kondisi cuaca yang dinamis. Delapan bandara tersebut setidaknya ditutup hingga pukul 08.59 WIB pada Senin (7/9).

Selain penerbangan, abu vulkanik juga berdampak pada kegiatan pendidikan. Sekolah di sejumlah wilayah terdampak diizinkan menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi paparan abu terhadap siswa.

Badan Geologi mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Warga yang terdampak abu juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.

Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau. Warga diimbau mengikuti arahan pemerintah daerah dan BPBD setempat.

TerkaitTRT Indonesia - Gunung Anak Krakatau kembali erupsi beruntun, otoritas tetapkan radius bahaya


SUMBER:TRT Indonesia