Malaysia memulai operasi penyemaian awan selama tiga hari di negara bagian Sarawak, Kalimantan bagian timur, sebagai langkah untuk menambah cadangan air bendungan sekaligus meredakan kabut asap yang melanda kawasan perbatasan dengan Indonesia.
Operasi tersebut difokuskan pada tiga bendungan utama—Batang Ai, Bakun, dan Murum—yang menjadi penopang pembangkit listrik tenaga air di wilayah itu. Penerbangan lanjutan juga dijadwalkan menyasar daerah tangkapan air kritis lainnya di seluruh Sarawak, menurut laporan media setempat.
Wakil Kepala Menteri Sarawak, Douglas Uggah Embas, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap kondisi cuaca yang diperkirakan semakin panas dan kering dalam beberapa bulan ke depan.
“Operasi ini bertujuan meningkatkan ketinggian air waduk menjelang kondisi yang lebih kering pada Oktober,” ujarnya.
Langkah Malaysia ini tidak terlepas dari situasi di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung, terutama di Kalimantan. Musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino telah memperparah risiko kebakaran hutan dan lahan, baik di Kalimantan maupun Sumatra.
Data pemerintah Indonesia menunjukkan hampir 95.000 hektare lahan terbakar sepanjang Juli saja. Secara kumulatif, luas area terdampak kebakaran mencapai sekitar 202.000 hektare hingga akhir bulan tersebut, memperburuk kualitas udara lintas batas.
Sarawak sendiri berbagi garis perbatasan darat dengan sejumlah provinsi di Kalimantan, menjadikan dampak kabut asap sebagai isu bersama di kawasan. Dalam konteks ini, Malaysia juga telah mengajukan izin kepada pemerintah Indonesia untuk menggunakan wilayah udara Indonesia dalam operasi penyemaian awan.
Teknologi penyemaian awan dilakukan dengan menyebarkan partikel berbasis garam ke dalam awan potensial untuk merangsang hujan. Metode ini diharapkan mampu menambah pasokan air sekaligus mengurangi konsentrasi polutan di udara akibat kebakaran hutan.





























