Administrator NASA Jared Isaacman ingin mengembalikan status Pluto sebagai planet di tata surya kita.
Berbicara pada sidang Senat AS pada 28 April, kepala badan antariksa terbesar di dunia mengatakan bahwa Pluto "selayaknya" dikembalikan status planetnya.
"Senator, saya sangat berada di kubu 'Jadikan Pluto planet lagi'," demikian kutipan ucapannya.
Bermain kata pada slogan politik Presiden AS Donald Trump, pernyataan Isaacman menghidupkan kembali perdebatan lama tentang Pluto, dengan banyak astronom yang berpendapat bahwa Pluto seharusnya merupakan planet penuh dalam tata surya kita.
Pluto sebelumnya merupakan planet kesembilan di tata surya kita hingga 2006, ketika International Astronomical Union (IAU) mengklasifikasikannya ulang sebagai "planet kerdil".
Ilmuwan saat itu bersepakat bahwa benda langit yang berada di tepi luar tata surya kita itu tidak memenuhi kriteria ketat untuk menjadi planet berukuran penuh.
Menanggapi pertanyaan Senator Jerry Moran saat memberikan kesaksian mengenai anggaran NASA 2027, Isaacman mengatakan bahwa lembaganya sedang menyiapkan makalah ilmiah untuk "mengajukan melalui komunitas ilmiah guna meninjau kembali diskusi ini".
Isaacman tampaknya mendasarkan ucapannya pada data dari misi New Horizons milik NASA, wahana antariksa pertama yang mengeksplorasi Pluto dari dekat, yang melintasi benda langit itu pada 2015.
Apa yang terjadi pada 2006?
Pluto menikmati status sebagai anggota penuh tata surya sejak penemuannya pada 1930 hingga 20 tahun lalu, ketika para astronom pada Sidang Umum IAU di Praha memilih untuk mengadopsi definisi planet baru yang terdiri dari tiga bagian.
Definisi tersebut menyatakan bahwa planet adalah benda langit yang mengorbit Matahari, memiliki massa cukup sehingga gravitasi sendiri dapat menariknya menjadi bentuk hampir bulat, dan telah "membersihkan lingkungan" di sekitar orbitnya.
Pluto memenuhi dua tolok ukur pertama, tetapi gagal pada kriteria ketiga tentang 'membersihkan lingkungan'.
Dalam terminologi antariksa, 'membersihkan lingkungan' berarti sebuah planet harus mampu mencapai "dominasi gravitasi" atas lingkungan antariksa di sekitarnya.
Dengan kata lain, artinya sebuah planet harus cukup besar untuk menelan atau mengendalikan secara gravitasi objek-objek langit yang lebih kecil di jalur orbitnya sehingga menjadi benda paling dominan di lingkungan antariksa tersebut.
Akibatnya, IAU menciptakan kategori baru pada 2006 yang disebut "planet kerdil". Istilah ini mencakup benda-benda langit yang mengorbit Matahari, berbentuk hampir bulat, namun belum mampu secara gravitasi 'membersihkan' jalur orbitnya dari puing dan objek lain.
IAU sejauh ini mengakui lima planet kerdil di tata surya kita. Namun, mungkin ada "lebih dari seratus" benda serupa yang menunggu untuk ditemukan.
Proses pengklasifikasian ulang itu tidak lepas dari kontroversi.
Para pengkritik, termasuk peneliti utama misi New Horizons Alan Stern, mengatakan proses pengklasifikasian itu cacat: Dari sekitar 10.000 anggota IAU saat itu, hanya 237 yang memilih mendukung resolusi untuk mengubah definisi, sementara 157 memilih menentangnya.
Sisanya dari anggota terdaftar badan yang bertanggung jawab menentukan definisi planet tersebut tidak pernah memberikan suara.
Penurunan status Pluto pada 2006 memicu protes publik luas, dengan anak-anak sekolah menulis surat protes menuntut keputusan itu dibatalkan.
Penulis mencatat bahwa penurunan status Pluto memperkuat kisah 'si kecil yang terpinggirkan': sebuah dunia kecil dan jauh yang ditemukan oleh seorang Amerika, namun dicabut statusnya oleh para ahli yang angkuh.
Untuk membela pengembalian status Pluto, Stern menyeru agar diadopsi definisi planet yang "geofisik". Definisi ini menyatakan bahwa planet adalah benda yang cukup masif untuk mencapai bentuk bulat (karena gravitasi sendiri) tetapi tidak cukup masif untuk mengalami fusi nuklir (yang akan mengubahnya menjadi bintang) — tanpa memperhatikan lingkungan orbitnya.
Menurut definisi ini, Pluto memenuhi syarat sebagai planet. Namun demikian banyak objek lain di Sabuk Kuiper juga memenuhi syarat, sebuah wilayah berbentuk donat yang terdiri dari puing es dan benda-benda langit kecil di luar orbit Neptunus.
Seperti apa Pluto?
Diluncurkan pada 2006, wahana antariksa New Horizons milik NASA melintas dekat Pluto pada Juli 2015, memperlihatkan sebuah benda yang dinamis dan aktif secara geologi.
Gambar-gambar menunjukkan pegunungan es air, glasier es nitrogen, bukit pasir, dan bukti kriovulkanisme, jenis gunung berapi yang melepaskan gas dan material mudah menguap.
Permukaan Pluto sangat dingin, dengan suhu serendah minus-226 hingga minus-240 derajat Celsius.
Suhu rendah tersebut berarti air, yang diperlukan untuk keberadaan kehidupan, berada dalam bentuk seperti batu.
Bagian dalam Pluto lebih hangat. Banyak ilmuwan mengatakan kemungkinan ada lautan di kedalaman interiornya.
Orang-orang yang mendorong pengembalian status Pluto sebagai planet mengatakan atribut-atribut ini membuat benda langit tersebut berperilaku seperti 'planet sejati': aktivitas geologi, bahan yang berpotensi mendukung habitabilitas, dan satelit-satelit alami yang mengitarinya.
Pluto memiliki lima bulan yang mengitarinya.
Anggota 'Tim Pluto' mengatakan statusnya sebagai planet/planet kerdil harus mencerminkan keseluruhan karakteristik ini, bukan hanya tolok ukur 'membersihkan lingkungan' di orbit yang ramai.
Argumen tandingan dari 'Tim No Pluto' adalah bahwa definisi planet oleh IAU memberikan kejelasan dan menghentikan daftar anggota penuh tata surya yang terus mengembang.
Dengan kata lain, mereka berpandangan bahwa mengembalikan Pluto ke status semula akan membuka pintu bagi puluhan planet lain, sehingga membuat tata surya yang relatif rapi menjadi lebih rumit.
Politik di sekitar Pluto
Sikap publik Isaacman, seorang pengusaha miliarder dan astronot swasta, selaras dengan nostalgia publik terhadap tata surya yang beranggotakan sembilan planet.
Ia berjanji untuk menghormati penemuan Pluto pada 1930 oleh Clyde Tombaugh, seorang astronom dan pembuat teleskop Amerika, dengan mengembalikan tubuh langit itu ke kemuliaan masa lalunya.
Namun masalahnya adalah NASA sendiri tidak mendefinisikan planet. Itu adalah tugas IAU.
Oleh karena itu, setiap perubahan formal akan memerlukan konsensus ilmiah internasional, bukan keputusan satu lembaga AS saja, betapapun besar dan berpengaruh, apalagi tindakan eksekutif oleh Presiden Trump.
Namun keterbatasan ini tidak mengurangi pentingnya data dan advokasi NASA dalam soal yang berkaitan dengan eksplorasi antariksa.
Waktu penyataan dukungan Isaacman untuk Pluto, yang bertepatan dengan dengar pendapat anggaran tahunan, telah memicu beberapa kritik.
Pengamat mencatat bahwa pernyataannya tak lebih dari gangguan populis di tengah rencana pemotongan anggaran pemerintah AS terhadap program-program antariksa.











