DUNIA
3 menit membaca
Emisi China dan India turun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 52 tahun
China dan India memangkas emisi sektor kelistrikan pada 2025. Penurunan ini menutupi lonjakan tajam penggunaan batu bara di Amerika Serikat dan membuat emisi listrik global relatif stagnan, menurut para peneliti.
Emisi China dan India turun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 52 tahun
Para pekerja membersihkan panel di taman tenaga surya di negara bagian Gujarat, India bagian barat, pada 19 Oktober 2022. / Reuters Archive

India dan China berhasil menurunkan emisi dari pembangkit listrik dengan mempercepat pengembangan energi bersih. Langkah ini, menurut para peneliti, mampu mengimbangi meningkatnya penggunaan batu bara di Amerika Serikat serta menahan laju pertumbuhan emisi global yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Emisi sektor kelistrikan China dan India—dua negara pengguna batu bara terbesar dunia yang menyumbang 93 persen kenaikan emisi karbon dioksida dalam satu dekade hingga 2024—turun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 52 tahun. Hal tersebut terungkap dalam laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirilis bulan ini.

“Penurunan emisi di China dan India pada 2025 menjadi sinyal arah ke depan. Kedua negara mencatat penambahan kapasitas pembangkit energi bersih dalam jumlah rekor tahun lalu, yang lebih dari cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik,” ujar Lauri Myllyvirta, analis utama CREA, lembaga riset independen yang terdaftar di Finlandia.

TerkaitTRT Indonesia - China dan India capai tonggak penting saat energi terbarukan hasilkan lebih banyak listrik daripada batu bara untuk pertama kalinya

Emisi listrik China dan India menurun

Emisi sektor listrik China turun sebesar 40 juta ton setara karbon dioksida (tCO2e), atau 0,7 persen secara tahunan pada 2025. Sementara itu, emisi dari perusahaan listrik India menyusut 38 juta tCO2e, atau 4,1 persen, dalam 11 bulan hingga akhir November. Data ini berdasarkan perkiraan lembaga pemikir energi Ember yang dihimpun dari statistik bulanan pemerintah.

Penurunan tersebut menutup kenaikan emisi tahunan Amerika Serikat sebesar 55,7 juta tCO2e. Lonjakan produksi listrik berbasis batu bara sebesar 13,1 persen mendorong emisi pembangkit listrik AS naik 3,3 persen pada 2025—yang tercepat dalam abad ini—sehingga emisi global secara keseluruhan tetap relatif datar.

Dalam 10 tahun hingga 2024, emisi pembangkit listrik China rata-rata meningkat 3,4 persen per tahun, sementara India naik 4,4 persen. Sebaliknya, emisi sektor listrik AS justru turun rata-rata 2,4 persen. Ketiga negara ini menyumbang sekitar 60 persen emisi sektor kelistrikan global, yang sendiri mencakup sekitar 35 persen dari total emisi penyebab perubahan iklim.

TerkaitTRT Indonesia - China berjanji mengurangi emisi 7-10 persen pada 2035, Turkiye-Eropa dorong aksi iklim di KTT PBB

Prospek batu bara

Penggunaan batu bara di China diperkirakan akan menurun secara bertahap sepanjang dekade ini. Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan tahunan batu baranya pada Desember menyebut tren tersebut akan membantu emisi pembangkit listrik China mencapai titik datar dalam beberapa tahun ke depan.

Namun di India, meski penambahan energi terbarukan dalam jumlah besar dan pertumbuhan permintaan listrik yang relatif moderat tahun ini membantu menekan penggunaan batu bara, IEA memperkirakan negara tersebut masih akan bergantung pada sumber energi fosil itu.

“Meski pembangkit listrik tenaga batu bara menurun pada 2025, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik tetap diperkirakan meningkat secara moderat karena permintaan listrik yang terus naik,” kata IEA.

Sementara di Amerika Serikat, lembaga tersebut memperkirakan tingginya biaya akan menekan permintaan batu bara hingga 6 persen sampai 2030, meskipun ada insentif kebijakan dari pemerintahan Presiden Donald Trump serta melambatnya laju penutupan pembangkit batu bara.

SUMBER:Reuters