5 jam dialog empat mata Prabowo-Putin, Indonesia siap impor minyak Rusia di tengah krisis Hormuz

Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengajukan permintaan pasokan minyak dari Moskow, seiring meningkatnya perhatian Jakarta terhadap keandalan rantai pasok global.

By
Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin berdialog secara intensif di Istana Kepresidenan Moskow, Rusia pada 13 April 2026. / AP

Indonesia dan Rusia kian mendekatkan kerja sama di sektor energi, dengan fokus utama pada pasokan minyak dan penguatan ketahanan energi jangka panjang, menyusul pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada Senin (13/4).

Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengajukan permintaan pasokan minyak dari Moskow, seiring meningkatnya perhatian Jakarta terhadap keandalan rantai pasok global. 

Dalam wawancara dengan media pemerintah Rusia, ia menegaskan bahwa negaranya selama ini memposisikan diri sebagai “pemasok yang dapat diandalkan”.

Menurut Tsivilev, Indonesia yang sebelumnya banyak bergantung pada impor dari negara seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Australia, kini mulai meninjau ulang strategi energinya di tengah dinamika geopolitik dan gangguan jalur distribusi. 

“Mereka kini mempertimbangkan aspek keandalan pasokan, mengingat situasi saat ini di selat,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa pembahasan serius tengah berlangsung untuk merancang kontrak jangka panjang dengan skema harga yang saling menguntungkan, menandakan potensi pergeseran penting dalam pola impor energi Indonesia.

Kerja sama jangka panjang di sektor energi

Rangkaian pembicaraan tersebut berlangsung selama sekitar lima jam dan mencakup sesi bilateral serta pertemuan empat mata antara kedua kepala negara. 

Dari pihak Indonesia, Prabowo menekankan perlunya konsultasi berkelanjutan untuk menghadapi tantangan global ke depan. “Kita harus terus memperkuat kerja sama, terutama di bidang ekonomi dan energi,” katanya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kedua negara sepakat memperluas kerjasama strategis, khususnya di sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk pengembangan hilirisasi.

“Beberapa poin telah disepakati, termasuk kerja sama jangka panjang di sektor energi dan sumber daya mineral, terutama untuk keamanan energi minyak dan gas serta pengembangan hilir,” ujarnya.

Selain energi, Indonesia dan Rusia juga berkomitmen memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, riset, teknologi, pertanian, dan investasi industri yang dinilai berdampak langsung terhadap pembangunan nasional.

Teddy juga menyoroti posisi strategis Rusia di panggung global sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan pendiri BRICS, serta kekayaan sumber daya alamnya yang besar. 

“Rusia adalah salah satu kekuatan besar dunia dengan sumber daya alam terbesar,” pungkasnya.